Sejarah Singkat PCNU Lamongan

Gambaran sejarah PCNU Lamongan pada bahasan ini, akan dipaparkan sekilas dengan mengedepankan serpihan-serpihan kisah yang memuat nilai historis. Adapun versi lengkapnya, sedang dalam proses penelusuran dan pelacakan yang akan dibukukan secara terpisah oleh tim.
Menelisik perkembangan Nahdlatul Ulama Lamongan, tak terlepas dari sosok KH. Ahyat yang menjadi syuriah pertama konsul NU Lamongan (sebelum dikenal istilah Pengurus Cabang NU). Kepemimpinan Kiai Ahyat ini, berakhir pada tahun 1952. Namun, awal kepengurusan belum ditemukan bukti yang otoritatif. Hanya asumsi yang muncul, kisaran tahun 1927 karena kedekatan sejarah antara Kiai Ahyat dan Kiai Faqih Maskumambang sebagai wakil Rois Akbar. Atau bahkan diantara kisaran pasca tahun 1947 pasca kewafatan Kiai Hasyim Asy’ari. Karena Konsul NU Lamongan yang berkedudukan di Desa Blimbing (sekarang kelurahan) kecamatan Paciran tepatnya di Langgar Kifayah di jalan raya Daendeles. Informasinnya saat itu Rois Amm PBNU dipimpin oleh KH Wahab Hasbullah, pernah melakukan turba di Langgar bersejarah ini.  Sehingga, jika Kiai Wahab memimpin PBNU sebagai rois amm, bisa dipastikan waktunya kisaran 1947-an pasca wafatnya Rois Akbar Kiai Hasyim Asy’ari.
 Saat itu, dalam forum permusyawaratan untuk menentukan pimpinan konsul NU Lamongan dilakukan dengan dua pilihan, antara KH. Mastur Asnawi dan KH. Ahyat,  karena faktor kesepuhan, akhirnya KH. Ahyat lah yang terpilih.
Selanjutnya adalah sosok yang tak bisa dikesampingkan dalam jejak sejarah NU Lamongan yaitu KH. Ahmad Zaini. Sayangnya, belum ada data sejarah yang valid tentang periodesasi beliau, perkiraan kepemimpinan beliau adalah pada rentang kekosongan kepemimpinan NU pasca peristiwa pengusiran Kyai Ahyat oleh masyarakat Blimbing (yang sebagaian besar punya afiliasi dengan masyumi). Dampak dari NU keluar dari Masyumi melalui keputusan Muktamar NU ke 19 di Palembang 1952.
KH. Mastur Asnawi yang wafat 1982 sebagai Rois Syuriah PCNU Lamongan pertama dan terlama, yaitu 30 tahun dalam rentang waktu 1952-1982. Beliau terpilih pada konferensi Cabang pertama tahun 1952 di Sendangduwur, Paciran, Lamongan di tempat Raden Maulani sebagai penggagas sekaligus tuan rumah. Adapun tanfidziyah-nya adalah Kiai Syukran, Mantan Danramil Karangbinangun ini, sangat akrab dengan anak muda khususnya yang tergabung dalam IPNU, IPPNU, GP. Ansor, dan Fatayat NU. Kegigihanya dalam mengkonsolidasi NU mengantarkan NU Lamongan sebagai pemenang ketiga setelah Masyumi dan PKI pada pemilu 1955. Sehingga tokoh-tokoh NU dapat bergabung dalam jajaran anggota kontituante.
Kiai Mastur dan Kiai Syukran inilah yang merupakan pasangan kepemimpinan pertama PCNU Lamongan, yang sebelumnya diistilahkan Konsul NU Lamongan. Kiai Mastur mengembangkan NU di Lamongan didahului dengan mendirikan jam’iyah al khoiriyah yang berlokasi di Kranggan, Sidokumpul. Bersama dengan tokoh dan masyarakat Lamongan saat itu, beliau juga membangun Masjid Agung Lamongan. Tak hanya itu, untuk memenuhi akses pendidikan warga NU, beliau juga mendirikan madrasah banat banin (sekarang SD NU Banat Banin), mendirikan madrasah mualimin mualimat (sekarang MTs Putra-putri dan MA Pembangunan), dan mushollah terkenal dengan istilah langgar duwur. Semasa kepemimpinan beliau NU Lamongan mampu melewati masa-masa sulit bagi jam’iyah dan warga NU, yaitu peristiwa 1965 dan pemilu 1971 yang diikuti oleh partai NU. Beliau senantiasa menjadi rujukan warga Lamongan baik masyarakat biasa maupun pejabat dan bupatinya.
Nahkoda selanjutnya adalah KH. Abdul Fatah yang wafat pada tahun 1992.  Beliau memimpin NU Lamongan pada masa khidmah 1982-1986 dengan pasangan KH Abdul Maun. Rentang sejarah kepemimpinan antara Kiai Fatah dengan Kiai Maun inilah terjadinya momentum sejarah Nahdlatul Ulama kembali ke khittah NU 1926. Duet kepemimpinan kiai ini, pada akhir masa kepemimpinannya kisaran tahun 1986 juga berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah kepengurusan NU Lamongan, yakni terintegrasinya PCNU Lamongan dan PCNU Babat, sehingga menjadi satu kepengurusan, satu atap dan satu administrasi.  Sehingga dikatakan bahwa tahun 1986 adalah tahun integrasi. Pasca penyatuan kepengurusan NU, maka disusul oleh banom-banomnya. Dengan urutan, Konferensi Integrasi PCNU Lamongan Januari 1986, PC LP Ma’arif Lamongan Juni 1986, berlanjut Muslimat dan Ansor Lamongan pada akhir 1986.
Saat itu, sebagai ketua PCNU Lamongan Kiai Maun juga merangkap menjadi Koordinator Wilayah (korwil) eks Keresidenan Bojonegoro, mendapatkan mandat dari KH Hasyim Latif selaku Pengurus Wilayah NU Jatim untuk mengawal integrasi atau penyatuan Pengurus Cabang-Pengurus Cabang di korwil tersebut. Kebijakan ini sebagai bagian dari spirit kembali ke Khittah 1926. Selain penyatuan PCNU Lamongan dan Babat, saat itu yang berhasil disatukan adalah PCNU Bojonegoro dengan PCNU Padangan, serta PCNU Tuban dengan PCNU Senori.
Sepeninggalan Kiai Abdul Fatah, kepemimpinan PCNU Lamongan dilanjutkan oleh putra beliau, yaitu KH. Abdul Muhit Fatah yang menjabat sebagai Rois Syuriyah dan ketua tanfidziyah KH Bukhori Hasyim. Kepengurusan Kiai  Muhit Fatah dan Kiai Kiai Bukhori inilah yang menjadi pengurus periode pertama kepengurusan PCNU Lamongan hasil integrasi dua Pengurus Cabang (Lamongan & Babat) yang berjalan pada masa khidmat 1986-1990.
Namun selang 29 tahun berlalu, tepatnya pada tahun 2015 saat kepengurusan PCNU Lamongan dipimpin oleh KH. Agus Abdul Madjid Fatah dan Drs. Biin Abdul Salam pada periode 2013-2018, terjadi problem yang cukup komplek. Sehingga kepengurusan PCNU Lamongan dan Babat terpisah kembali secara administratif. Dengan kata lain, sudah tidak lagi menjadi satu atap dan satu struktur kepengurusan.
Kepengurusan PCNU Lamongan periode 2018-2023 saat ini dipimpin oleh KH Salim Azhar sebagai Syuriah dan posisi tanfidziyah dijabat oleh Dr. H. Supandi, M. Pd. Kepengurusan yang berlangsung selama lima tahun ke depan ini, dihasilkan dari mandat Konferensi Cabang (Konfercab) NU Kabupaten Lamongan Jawa Timur ke-XIII yang diselanggarakan di MI Murni Sunan Drajat.
Terpilihnya KH Salim Azhar sebagai syuriah  terlahir melalui sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Sedangkan Dr. Supandi terpilih sebagai Ketua tanfidziyah periode 2018-2023 setelah mendapat suara terbanyak dari 338 delegasi Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) dan Pengurus Ranting NU (PRNU) sekabuparen Lamongan yang hadir pada saat Konfercab berlangsung. Ketua tanfidziyah terpilih tersebut, memperoleh 208 suara yang mengungguli dari pada calon ketua yang lain.