NU, Indonesia dan Korban Sabotase Istilah

April 20, 2019


Oleh: 
W Eka Wahyudi*

KHALIFAH Ali ibn Abi Thalib digeruduk oleh demonstran karena tak terima atas keputusan tahkim. Menantu Rasulullah Muhammad SAW itu, dihujani dengan umpatan oleh para pendemo dengan teriakan, “tidak ada hukum kecuali hukum Allah”. Pemilik pintu ilmu itu, menjawab dengan kalimat indah, “kalimat bagus, namun punya tendensi yang batil”.

Bagaimana mungkin, gerombolan umat unyu-unyu memaki seorang yang dijamin masuk surga oleh Rasul dengan menyabotase penggalan ayat suci al-Quran? Bagaimana bisa, sekelompok kecil yang ndak jelas itu menghujat seorang ashabus sunnah (maa ana alaihi wa ashabi).

Fenomema perampokan ayat suci oleh para demonstran di atas, percik-perciknya masih bisa dirasakan sampai hari ini. Tulisan ini akan mengintip bagaimana pola yang sama dialami oleh Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia. NU —sejak dulu— menjadi bulan-bulanan perampasan istilah yang nada-nadanya hari ini merembet percikan apinya untuk mendelegitimasi eksistensi NU (dan negara?).

Ada beberapa kasus sekadar menyebut contoh. Pertama, saat memutuskan untuk berislam dengan cara bermadzhab, ada kelompok yang mengatakan “Orang NU lebih memilih mengikuti imam madzhab dari pada ajaran murni Nabi Muhammad”. Dikatakan seperti itu, bagaimana tidak sakit, coba!.

Kedua, ketika orang-orang NU berdoa kepada Allah SWT melalui wasilah para auliya’ dan orang-orang shalih, melalui tawasul, ziarah kubur para wali dan istigatsah mereka dengan enteng menuduh, “jama’ah NU banyak yang kafir, musyrik, karena tidak langsung memohon kepada Allah. Dasar penyembah kubur”. Diumpat semacam itu, bagaimana perasaanmu, Vijay?.

Ketiga, jika jamaah NU melaksanakan ratibul hadad, menyenandungkan shalawat diba’ dan barzanji, mereka mengumpat dengan nada hinaan, “Jangan menambah-tambah ajaran, Islam sudah sempurna”.

Keempat, bilamana menyelanggarakan tahlilan dan istigatsah, mereka hadiahi kalimat “Pelaku bid’ah sesat. Jangan mencampur ayat al-Quran dengan yang lain”.

Kelima, saat mengistiqomahkan membaca surah Yasin dan Waqiah, mereka bilang “Jangan diskriminatif terhadap surah al-Quran”.

Demikian sekadar beberapa contoh kasus. Teralu banyak kejahatan verbal yang selama ini dialamatkan pada NU. Jika hujatan ini saya bukukan, akan terkumpul 24 jilid dengan judul, “Ensiklopedi Lengkap Kesesatan NU: dari Pemikiran sampai Kepemimpinan”.

Logika generalis inilah yang berhasil mengombang-ambingkan umat yang awam. Akibat tidak jeli dan teliti banyak yang menjadi korban dan akhirnya bergeser membenci ritus-ritus amaliyah NU. Kita semua paham, siapa kelompok yang selama ini menyerang amalan NU seperti itu.

Saat NU berupaya mengkontekstualisasikan ajaran Islam dengan adat budaya lokal dengan istilah Islam Nusantara, logika di atas dipakai lagi: NU liberal, ingin merusak Islam dari dalam, ANUS (Aliran Nusantara) dan celaan manis lainnya.

Nah, kali ini lihatlah. Saat NU berusaha menjaga gawang kebangsaan, mengawal pemerintah untuk membubarkan organisasi yang dilarang di berbagai penjuru dunia Islam, dan turut merawat kohesi sosial dengan “mengamankan ustadz” yang gandrung melakukan ujaran kebencian di tengah “pengajian”-nya, apa yang mereka umpatkan?: NU (dan pemerintah) menistakan agama, pengkriminalisasi ulama, penista tauhid dan rezim anti Islam.

Tidak berniat menyamakan antara Imam Ali dan NU, namun pola penggiringan opini kelompok ini sangat serupa. Memproduksi diksi, mempropagandakan narasi untuk memobilisasi kebencian.

Kelompok ini, pada dasarnya mengidap penyakit mental sosio-religius climber. Yaitu sebuah perasaan yang ingin diakui dan dilegitimasi secara sosial keagamaan oleh orang lain. Apa sebab? karena nalarnya bereaksi dengan disonansi kognitif, yakni sebentuk asumsi untuk mengurangi ketidaknyamanan terhadap situasi (dan kelompok) yang dianggap merugikan dirinya.

Tak lain, situasi tersebut ketika fakta sosial dengan fasih mengabarkan bahwa kelompoknya telah bubar, tokohnya diburu oleh pemerintah karena menyebarkan kebencian, dan NU adalah sekelompok organisasi yang selama ini lantang mengcounter pemikiran mereka.

Sehingga wajar, mereka sangat lantang membuat propaganda dengan logika kategorisasi ingroup dan outgroup, logika kawan-lawan, dengan memproduksi narasi-narasi kalau tidak bersamaku, berarti kalian lawanku (with us or against us).

Maka dari itu, ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Berhati-hatilah, jangan sampai kita termakan oleh narasi generalis yang sebenarnya rapuh secara akal sehat. Jangan sampai kita menjadi korban penggiringan opini yang dampaknya kita mempercayai bahwa Lucinta Luna ternyata sudah datang bulan…! (*)

W Eka Wahyudi, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM NU) Lamongan dan Sekretaris ASPIRASI (Asosiasi Penulis dan Peneliti Islam Nusantara)

Share this

Baca

Latest
Previous
Next Post »