Kebingungan Imam Ibnu Wahb karena Hafal Banyak Hadits

Maret 31, 2019 Add Comment
Source Image: muslim.or.id
Dalam kitab Tartîb al-Madârik wa Taqrîb al-Masâlik karya Qâdi ‘Iyâd (w. 544 H) tercatat pernyataan kebingungan Imam Abdullah bin Wahb (w. 197 H):

وكنت أنا آتي مالك وهو شاب قوي، يأخذ كتابي فيقرأ منه، وربما وجد فيه الخطأ فيأخذ خرقة بين يديه فيبلها في الماء فيمحوه، ويكتب لي الصواب. قال ابن وهب: لولا أن الله أنقذني بمالك والليث لضللت. فقيل له: كيف ذلك؟ قال: أكثرت من الحديث فحيرني. فكنت أعرض ذلك على مالك والليث، فيقولان لي: خذ هذا ودع هذا

Aku mendatangi Malik, seorang pemuda luar biasa. Dia mengambil bukuku dan membacanya. Ketika dia menemukan kesalahan di dalamnya, dia mengambil kain di antara tangannya lalu menyelubkannya ke dalam air dan menghapusnya. Dia pun mencatatkan untukku apa yang benar.

Ibnu Wahb berkata: “Jika saja Allah tidak menyelamatkanku melalui perantara Malik dan al-Laitsi, aku pasti telah sesat.”

Kemudian dikatakan kepadanya: “Kenapa bisa begitu?”

Ibnu Wahb menjawab: “Aku hafal banyak hadits hingga membuatku bingung. Lalu kusampaikan kebingunganku kepada Malik dan al-Laitsi. Keduanya berkata kepadaku: “Ambil ini dan tinggalkan yang ini.” (Abû al-Fadl al-Qâdi ‘Iyâd bin Mûsâ, Tartîb al-Madârik wa Taqrîb al-Masâlik, Mohammedia (Marokko): Mathba’ah Fadlalah, tt, juz 3, hlm 236)

****

Abdullah bin Wahb adalah ulama terkemuka. Murid dari ulama-ulama besar seperti Sufyan al-Tsauri (97-161 H), Sufyan bin ‘Uyainah (107-198 H), al-Laits bin Sa’d (94-175 H), Malik bin Anas (93-179 H) dan lain sebagainya. Ia juga menghasilkan banyak murid luar biasa seperti Sa’id bin Manshur (w. 227 H), Ali bin al-Madini (161-234 H), Qutaibah bin Sa’id (150-240 H), dan masih banyak murid lainnya.

Para ulama sangat menghormatinya. Ia dikenal sebagai ahli fiqih dan hadits yang mumpuni. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits darinya. Kejujuran dan keilmuannya tidak diragukan sehingga membuat hadits-hadits yang disampaikannya berkedudukan tinggi. Imam Yahya bin Ma’in (w. 233 H) dan Imam al-Nasa’i (w. 303 H) mengatakan, “Ibn Wahb tsiqqah—Ibnu Wahb terpercaya.” Imam Abu Hatim al-Razi (w. 277 H) memberinya predikat sangat terpercaya. Menurut Imam Ahmad bin Shalih, Ibnu Wahb hafal ratusan ribu hadits. ((Abû al-Fadl al-Qâdi ‘Iyâd bin Mûsâ, Tartîb al-Madârik wa Taqrîb al-Masâlik, juz 3, hlm 232)

Jika seorang Ibnu Wahb yang hafal ratusan ribu hadits dan belajar agama secara tradisional (berjenjang) masih terserang kebingungan dalam memahami agama, bagaimana dengan kita yang mempelajari agama sepotong-potong. Hanya bermodalkan satu hadits sudah berani menyalahkan dan menghakimi lainnya. Padahal, bangunan hukum tidak cukup hanya mengandalkan satu hadits saja.

Contohnya hadits, “lahm al-baqar dâ’un—daging sapi adalah penyakit.” Hadits ini dipandang bermasalah oleh banyak ulama meskipun dipandang shahih oleh Syekh al-Albani (w. 1999 M). Salah satu kritik datang dari Syekh Muhammad al-Ghazali (w. 1996 M) yang mengatakan:

وفي هذه الأيام صدر تصحيح من الشيخ الألباني لحديث "لحم البقر داء", وكل متدبر للقرآن الكريم يدرك أن الحديث لا قيمة له, مهما 
كان سنده. إن الله تعالي في موضعين من كتابه أباح لحم البقر, وامتنّ به علي الناس, فكيف يكون داءً؟

“Akhir-akhir ini telah muncul penshahihan dari Syekh al-Albani terhadap hadits “daging sapi adalah penyakit.’ Padahal, setiap orang yang mencermati Al-Qur’an akan tahu bahwa hadits tersebut tidak ada nilainya, bagaimanapun keadaan sanadnya. Sesungguhnya Allah, dalam dua tempat di kitabNya menghalalkan daging sapi dan mengaruniakannya kepada manusia, maka bagaimana mungkin daging sapi adalah penyakit?” (Syekh Muhammad al-Ghazali, al-Sunnah al-Nabawiyyah bain Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadits, Kairo: Darul Kitab al-Mishr, 2011, hlm 22)

Dua tempat dalam kitabNya yang dimaksud Syekh Muhammad al-Ghazali adalah Surah Al-An’am ayat 142-144 dan Al-Hajj ayat 36. Surah Al-An’am 142-144 berisi keterangan bahwa binatang ternak itu ada dua macam; untuk pengangkutan dan disembelih. Kemudian Allah memerintahkan manusia agar memakan rizki halal yang dikaruniakan Allah kepada mereka termasuk di dalamnya domba, kambing, unta, sapi dan seterusnya. Surah berikutnya, Al-Hajj ayat 36 berisi tentang penjelasan bahwa Allah telah menjadikan hewan-hewan al-budn sebagai bagian dari syiarnya dan manusia memperoleh kebaikan darinya, serta perintah menyebut nama Allah ketika menyembelihnya. Maksud dari hewan-hewan al-budn adalah unta, sapi, dan kerbau.

Ini baru contoh kecil saja, belum memasuki aspek metodelogi yang lebih kompleks. Kita perlu hati-hati membaca terjemahan ayat atau hadits, karena teks asli dengan terjemahan itu tidak setara. Terjemahan Al-Qur’an tidak bisa lepas dari pemaknaan mufassir. Sedangkan satu mufassir dengan mufassir lainnya bisa berbeda dalam memaknainya, bahkan di kalangan sahabat nabi pun terjadi perbedaan itu.

Maka, seperti yang dilakukan Imam Abdullah bin Wahb, kita harus mendengar dan membaca pandangan para pakar yang benar-benar ahli di bidangnya. Seorang Ibnu Wahb saja kebingungan untuk memilih mana hadits yang harus diamalkan karena bermacam-macamnya tipe hadits. Terkadang, di hadits yang bertema sama, satunya bersifat ‘amm (umum), satunya bersifat khas (khusus). Belum lagi jika terjadi ta’ârudl bainal adillah (kontradiksi antar dalil), yang menurunkan sekian banyak konsep penyelesaiannya, dari mulai al-jam’u bainahumâ (dikompromikan antara keduanya) sampai nashul mutaqaddim bil muta’ahhir (menghapus yang lebih dulu dengan yang belakangan). Lalu ada al-nash wal mansûh dan seterusnya.

Karena itu, ia bertanya kepada Imam Malik dan Imam al-Laitsi, dua orang mujtahid besar tentang hadits-hadits yang dihafalnya. Dalam gambaran ringkas, Imam Malik dan Imam al-Laistsi menjawab: “ambil ini, dan tinggalkan yang ini.” Artinya, terjadi proses belajar-mengajarnya yang panjang. Apa yang dikemukakan di atas adalah gambaran sederhana dari proses panjang itu. Sebab, untuk bisa mengatakan, “ambil ini dan tinggalkan yang ini,” Imam Malik dan Imam al-Laitsi harus terlebih dahulu mendengarkan puluhan ribu hadits yang dihafal Ibnu Wahb, agar hadits-hadits itu dapat diukur dengan standar metodelogi yang dipakai keduanya. Sejak saat itu, ia menjadi murid Imam Malik yang sangat berpengaruh dalam penyebaran Mazhab Maliki. Ia tidak lagi sekedar ahli hadits, tapi juga ahli fiqih seperti gurunya.

Riwayat di atas menunjukkan pentingnya belajar agama secara berkala pada guru yang jelas sanad keilmuannya. Karena itu, kita harus tetap berpegang teguh pada tradisi beragama yang ditinggalkan para salafus shalih, yaitu beragama dengan ilmu, belajar secara berjenjang, serta selalu memohon petunjuk Allah agar dimudahkan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Semoga kita bisa terus melestarikannya. Amin.

Semoga bermanfaat....


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.
Source : NU Online

Mengonsumsi Keong, Halal atau Haram?

Maret 31, 2019 Add Comment
Ilustrasi: Detik.com
Keong merupakan salah satu hewan yang dapat hidup dalam dua alam, yakni di perairan dan daratan. Salah satu ciri khas hewan ini adalah memiliki tempurung atau cangkang yang berfungsi sebagai pelindung dirinya dari ancaman luar. Tempurung keong ini selalu menyertainya di mana pun hewan ini berjalan, seperti halnya tempurung yang dimiliki oleh siput dan kura-kura.

Bagi masyarakat yang berada di sekitar pesisir pantai, hewan keong ini sering mereka temukan. Kadang kita melihat beberapa orang berburu keong, sebagian untuk tujuan dikonsumsi secara pribadi dan ada pula yang menggunakan keong untuk diperjualbelikan.

Sedangkan bagi masyarakat pedesaan, terutama mereka yang bermata pencaharian sebagai petani, banyak juga keong yang berlalu-lalang di sekitar perairan sawah, hewan ini biasa dikenal dengan nama tutut atau keong sawah. Sebagian masyarakat berburu hewan keong sawah ini untuk dijadikan sebagai lauk-pauk, terkadang ada juga yang diperjualbelikan. 

Melihat berbagai realitas di atas, sebenarnya apakah memang hewan keong termasuk hewan yang halal untuk dikonsumsi, sehingga tindakan sebagian masyarakat dapat dibenarkan?

Para ulama berbeda pendapat tentang status hokum keong, apakah termasuk hewan yang halal atau haram dikonsumsi. Sebagian ulama seperti Imam Ar-Ramli, Ad-Damiri dan Khatib Asy-Syirbini berpandangan bahwa keong adalah hewan yang halal untuk dikonsumsi. Sedangkan ulama lain seperti Imam Ibnu Hajar, Ibnu Abdissalam, dan Az-Zarkasyi berpandangan bahwa keong adalah hewan yang haram untuk dikonsumsi. Perbedaan pendapat ini secara tegas dijelaskan dalam salah satu kitab karya ulama Nusantara, Syekh Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Jawi al-Bughuri yang berjudul Shawaiq al-Muhriqah li al-Awham al-Kadzibah:

فعلى كلام المجموع وابن عدلان وأئمّة عصره والدميري والشهاب الرملي ومحمد الرملي والخطيب فى المغني فالرميسى والتوتوت والكييوع حلال لأنّها مثل الدنيلس الذي اتّفقوا على حله وداخل في أنواع الصدف الذي ظاهر كلام المجموع على حلّه . وعلى كلام ابن عبد السلام والزركشى  وابن حجر فى الفتاوى الكبرى والتحفة فالمذكورات حرام فيجوز للناس أكلها تقليدا للذين قالوا بحلّه والأولى تركه إحتياطا.

“Berdasarkan penjelasan dalam kitab Al-Majmu’, pendapat Ibnu ‘Adlan dan ulama semasanya, Imam Ad-Damiri, Syihab Ar-Ramli, Muhammad Ar-Ramli, dan Khatib Asy-Syirbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj bahwa ramis, tutut (keong sawah) dan keong (laut) adalah hewan yang halal, karena masih sama dengan danilas (sejenis hewan laut) yang disepakati kehalalannya dan tergolong dalam jenis kerang yang secara eksplisit dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ kehalalannya. Namun jika berdasarkan pendapat Imam Ibnu Abdissalam, Az-Zarkasyi, Ibnu Hajar dalam kitab al-Fatawa al-Kubra dan Tuhfah al-Muhtaj bahwa semua hewan yang disebutkan di atas adalah haram, maka boleh bagi seseorang untuk mengonsumsinya dengan bertaqlid pada ulama yang berpendapat tentang kehalalannya, namun yang lebih utama adalah tidak mengonsumsi hewan ini dalam rangka mengambil jalan hati-hati dalam mengamalkan syariat.” (Syekh Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Jawi, Shawaiq al-Muhriqah li al-Awham al-Kadzibah, hal. 14-15)

Perbedaan pendapat tentang hukum mengonsumsi keong di atas sebenarya bermula dari perbedaan pendapat di antara ulama tentang status hukum hewan kerang, apakah termasuk hewan yang haram atau halal dikonsumsi. Sebab keong adalah hewan yang mirip dengan kerang dari segi kehalalan dan keharamannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi keong, baik itu keong laut ataupun keong sawah adalah persoalan yang diperdebatkan, sebagian ulama memperbolehkan, sebagian yang lain mengharamkan. Bagi sebagian orang yang terbiasa mengonsumsi keong atau menjadikan keong sebagai mata pencaharian diperbolehkan baginya mengikuti (taqlid) pada ulama yang menghalalkan keong. Sehingga perbuatan yang dilakukannya, baik itu mengonsumsi ataupun memperjual-belikan keong tidak tergolong sebagai hal yang dilarang oleh syara’. Meski begitu, hal yang lebih utama tetap menjauhi mengonsumsi keong ini dalam rangka mengambil jalan kehati-hatian dalam mengamalkan syariat (ihtiyath) seperti yang dijelaskan dalam kitab Shawaiq al-Muhriqah li al-Awham al-Kadzibah di atas. Wallahu a’lam.


Ustadz Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Kaliwining Jember Jawa Timur 
Source : NU Online

Istilah Khilafah Tidak Ada Dalam Al-Qur’an

Maret 31, 2019 Add Comment

Nadirsyah Hosen
(Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand)

Banyak terjadi kerancuan di kalangan umat mengenai penggunaan istilah Khalifah, Khilafah, dan juga Khalifatullah fil Ardh. Perlu saya tegaskan bahwa
1. Tidak ada istilah Khilafah dalam al-Qur’an
2. Tidak ada istilah Khalifatullah fil Ardh dalam al-Qur’an
3. Hanya dua kali al-Qur’an menggunakan istilah khalifah, yang ditujukan untuk Nabi Adam dan Nabi Dawud.

Mari kita simak bahasan berikut ini:
Penggunaan terminologi atau istilah Khalifah itu hanya digunakan dua kali dalam al-Qur’an. Pertama, dalam QS 2:30
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Konteks ayat ini berkenaan dengan penciptaan Nabi Adam as. Ini artinya Nabi Adam dan keturunannya telah Allah pilih sebagai pengelola bumi. Penggunaan istilah Khalifah di sini berlaku untuk setiap anak cucu Adam.
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia....” (QS 33:72)
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS 17:70)
“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS 21: 105)
Potensi semua manusia menjadi khalifah ini juga disinggung oleh Hadis Nabi Saw:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawabannya. Maka seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggung jawabannya. Dan seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggung jawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya” (Sahih al-Bukhori, Hadis No 4789)
Kedua, ayat terakhir yang menyebut istilah khalifah itu adalah yang berkenaan dengan Nabi Dawud:
“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah...” (QS 38:26)
Harap diingat bahwa Nabi Dawud adalah Raja Bani Israil. Dalam ayat di atas, Nabi Dawud diperintah untuk memberi keputusan dengan adil. Inilah spirit ajaran Qur’an: keadilan. Sehingga amanah sebagai khalifah (pemimpin) harus diwujudkan dengan prinsip keadilan. Kata adil dalam al-Qur’an disebut sebanyak 28 kali.
Pada titik ini, tidak satupun ayat mengenai Khalifah bicara mengenai sistem pemerintahan. Tentu ini dapat dipahami karena ada jarak yang jauh antara Nabi Adam dan Nabi Dawud dengan kehadiran Nabi Muhammad Saw. Istilah Khalifah dalam konteks kepemimpinan umat pasca wafatnya Rasulullah Saw muncul setelah beliau Saw wafat.
Titel kepemimpinan Abu Bakar itu Khalifatur Rasul (Pengganti Rasul). Karena tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad Saw, maka Abu Bakar menggantikan beliau Saw dalam kapasitas sebagai pemimpn umat, bukan pengemban kenabian.
Menurut sejarawan Ibn Khaldun dalam kitabnya Muqaddimah, titel untuk Umar Bin Khattab itu Khalifatu Khalifatir Rasul (Pengganti dari penggantinya Rasul). Ini mungkin seperti ungkapan joke dari orang Madura, “Gubernur Jawa Timur itu Pak Mohammad Noer, selain itu ya cuma penggantinya”. Jadi, Sayidina Umar hanya dianggap sebagai Khalifah Pengganti Khalifah Rasul. Tapi penyebutannya kan jadi ribet. Nanti khalifah ketiga dan keempat gimana penyebutannya?
Abdullah bin Jahsy kemudian menyebut Sayidina Umar sebagai Amirul Mu’minin. Maka gelar Khalifah tetap dipakai, namun dalam pelaksanaannya di masyarakat Khalifah kedua, ketiga dan keempat dipanggil dengan sebutan Amirul Mu’minin (pemimpin orang-orang beriman).
Tradisi ini diteruskan oleh Bani Umayyah. Sepeninggal Bani Umayyah, muncul istilah baru di masa Khalifah ketiga Abbasiyah, yaitu Al-Mahdi. Di masa Al-Mahdi ini perlahan titel khalifah bergeser, dari semula sebagai khalifah penerus Rasul, kini menjadi Khalifatullah fil Ardh. Khalifah Allah di muka bumi, seolah menjadi bayang-bayang kekuasaan Allah di bumi. Maka, perlahan Khalifah Al-Mahdi duduk di balik tirai dan sejumlah urusan penting emerintahan sehari-hari diserahkan kepada wazir (semacam perdana menteri).
Istilah khalifatullah fil Ardh ini tidak ada dalam al-Qur’an. Yang ada dalam al-Qur’an itu istilah “khalaif al-ardh” atau “khalaif fil ardh”. Misalnya:
“Dan Dia lah yang menjadikan kamu khalaif al-ardh (penguasa-penguasa di bumi) dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS 6:165)
“Kemudian Kami jadikan kamu khalaif fil ardh (pengganti-pengganti di muka bumi) sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat”. (QS 10:14)
Jadi, sekali lagi menjadi jelas bahwa penggunaan kata khalifah dalam al-Qur’an digunakan merujuk ke Nabi Adam dan Nabi Dawud, bukan merujuk kepada khalifah sepeninggal Nabi Muhammad. Tidak ditemukan istilah Khilafah dalam al-Qur’an. Maka kita sebaiknya jangan mengklaim sebuah istilah seolah ada dalam al-Qur’an padahal tidak ada sama sekali. Begitu pula istilah Khalifatullah fil ardh, yang penggunaannya sangat politis dilakukan oleh Abbasiyah untuk memperkuat legitimasi kekuasaan mereka.
Lantas apa bedanya khalifah dengan khilafah? Khilafah belakangan ini telah menjadi sebuah istilah yang bermakna sistem pemerintahan. Pemerintahan Khilafah ini sudah bubar sejak tahun 1924. Maka tepat kita katakan “Islam Yes, Khilafah No”. Bukan saja kita bilang No karena sudah bubar, dan digantikan oleh negara-bangsa, tapi juga istilah Khilafah tidak ada dalam al-Qur’an. Istilahnya saja tidak ada, apalagi bentuk dan sistem pemerintahan yang baku juga tidak terdapat penjelasannya di dalam al-Qur’an.
Bisakah seorang menjadi Khalifah tanpa ada Khilafah? Bisa. Kenapa tidak? Bukankah kita semua sebagai anak cucu Nabi Adam adalah pewaris dan pengelola bumi? Ini khalifah dalam pengertian Qur’an, bukan dalam konteks sistem Khilafah ala HTI.
Bisakah pemimpin sekarang kita sebut sebagai Khalifah meskipun tidak ada khilafah? Bisa, mengapa tidak? Bukankah Nabi Dawud menjadi Khalifah padahal beliau Raja Bani Israil? Kata kuncinya, seperti dijelaskan di atas, adalah keadilan. Sesiapa pemimpin yang adil, bisa kita anggap sebagai Khalifah seperti Nabi Dawud
Bisakah ada khalifah tanpa khilafah? Bisa, mengapa tidak? Bani Umayyah, Abbasiyah dan Utsmani itu berdasarkan kerajaan, diwariskan turun temurun. Ini bertentangan dengan konsep yang dijalankan Khulafa ar-Rasyidin. Tapi toh namanya juga disebut sebagai Khalifah. Artinya pada titik ini cuma sebutan gelar belaka untuk kepala negara, sementara esensinya sudah hilang.
Jadi jangan dikacaukan antara istilah khalifah dalam al-Qur’an dengan istilah khilafah (sistem pemerintahan) yang tidak ada dalam al-Qur’an.
Bagaimana dengan di kitab fiqh? Pembahasan di kitab fiqh itu dalam konteks kewajiban mengangkat pemimpin (Imam atau khalifah), bukan kewajiban menegakkan sistem khilafah. Sampai di titik ini kerancuan semakin parah: seolah wajib mendirikan sistem khilafah. Padahal yang wajib itu memilih pemimpin.
Dan saat ini kita di Indonesia sudah punya pemimpin yang bernama Joko Widodo. Sebentar lagi kita akan menggelar Pilpres lima-tahunan, sesuatu yang tidak pernah ada dalam sistem pemerintahan khilafah. Bersyukurlah kita di bawah naungan NKRI!

Delegasi RMI NU Lamongan, Sabet Juara II OKK Kategori Kitab Bulughul Marom

Maret 31, 2019 Add Comment
Moch. Abdul Hamid saat menerima Tropi dari Panitia OKK
Delegasi Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU Lamongan, Moch. Abdul Hamid berhasil menggondol juara II Olimpiade Kitab Kuning (OKK) yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah RMI NU Jawa Timur. Kompetisi inidihelat di Pondok Pesantren Al Mahrusiyah III Ngampel Mojoroto Kota Kediri, Sabtu (30/3) kemarin.

Santri Pondok Pesantren Al-Mukhtar Banjaranyar, Paciran ini, menjadi orang menempati posisi kedua dalam kompetisi bidang Kitab Bulughul Maram, dengan menyingkirkan 60 peserta lain seluruh Jawa Timur.  Atas prestasi itu, Moh. Abdul Hamid berhak mendapatkan piagam, uang pembinaan, serta sertifikat dari PW RMI NU Jawa Timur.

Dalam Olimpiade Kitab Kuning (OKK) PW RMI NU Jawa Timur ada dua kategori, yakni kitab fathul qorib putra dan katagori Bulughul Marom putra, serta katagori Fathul Qorib Putri dan katagori Bulughul Marom Putri. Total seluruh peserta Olimpiade Kitab Kuning (OKK) sebanyak 170 peserta, dengan rincian 60 peserta untuk katagori Fathul Qorib putra, 50 peserta untuk katagori Fathul Qorib putri. Serta katagori Bulghul Marom Putra serta putri diikuti sebanyak 60 peserta. 

Ketua RMI Lamongan, H. Abdullah Adib Haad menyatakan bahwa pihaknya mengkoordinir peserta olimpiade yang akan didelegasikan mengikuti OKK diambil dari beberapa pondok pesantren yang ada di Lamongan. "Kami berharap santri yang ikut menjadi inspirasi bagi santri yang lain untuk terus belajar tentang kitab-kitab salafus sholih", harapnya

Ia menambahkan bahwa juara adalah nomor kesekian, yang penting memupuk keberanian santri-santri untuk tampil dan melestarikan tradisi baca kitab kuning. Pria yang juga menjadi Pengasuh Pesantren Al-Fatihah Putri, Banjaranyar ini menginginkan bahwa kegiatan ini bisa diduplikasi di Lamongan.

"Kami juga akan meniru olimpiade semacam ini, akan kami adakan di Lamongan" terangnya.(Ek)

Cerita Tim Medis dibalik Acara Istigotsah Kubro: Dari Pingsan Sampai Kejatuhan Terop

Maret 30, 2019 Add Comment
Salah satu jamaah istigotsah Kubro yang mendapatkan pelayanan medis
Perhelatan Istigotsah Kubro yang digelar di Stadion Suraja, Lamongan menyisakan banyak cerita yang menarik. Salah satunya adalah kisah yang dialami oleh tim medis saat memberikan pertolongan pada para jamaah. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, bahwa tim ini terdiri dari para pengurus PC LKNU dan LKKNU Lamongan, yang dibantu dengan petugas kesehatan dari RSI Nashrul Ummah yang meliputi: 4 org dokter, 12 paramedis. 5 orang dari bagian umum, 2 petugas dari puskesmas Deket serta 2 petugas dari Klinik POLRES. Selain itu, juga dibantu oleh 21 siswa dari SMK Kesehatan Nurul Ummah Babat.

Umayah selaku pengurus LKNU Lamongan menuturkan bahwa pihaknya selain menyiapkan perlengkapan medis dan obat-obatan, juga menyiapkan air mineral yang di tempatkan di poskes untuk antisipasi dehidrasi para jama'ah. Karena menurutnya, kegiatan ini dilaksanakan di siang yang cukup terik.

Korban yang kami tangani kurang lebih sebanyak 79 orang, baik dari panitia maupun jama'ah, bahkan ada 1 korban yang dirujuk ke RSI Nashrul Ummah. Alhamdulillah malam hari semua yang dirujuk bisa kembali ke rumah masing-masing”. terangnya

Perempuan yang juga bekerja sebagai tenaga medis di RSI NU ini menambahkan, bahwa terdapat  2 korban yang dirujuk ke puskesmas Deket karena akses yang mudah dan tidak jauh. Sebagian besar korban pingsan karena mengalami dehidrasi, sakit kepala karena hipoglikemi dan juga gastritis. Terdapat juga 1 korban kaki lecet.

Setelah pelaksanaan istighotsah timkes melalui RSI Nashrul Ummah tetap memberikan pelayanan kesehatan kepada semua yang terlibat di acara. Termasuk memberikan pengobatan kepada petugas yang kejatuhan terop ketika melakukan pembongkaran panggung.

Korban terluka di bagian kepala, sehingga memerlukan pembersihan dan penjahitan. Tapi  Alhamdulillah tidak sampai memerlukan rawat inap” terang perempuan yang juga menjadi pengurus Fatayat Lamongan ini.

Ia juga menceritakan pengalamannya yang menurutnya lucu. Bahwa korban pertama yang masuk di poskes justru adalah pasukan CBP yang pingsan. Sehingga diamankan di poskes VVIP, serta 1 Banserwati 1 personel Banser.

petugas e tidak sarapan jadi pingsan” imbuhnya sambil tersenyum. (Ek).

Menilik Personel dan Alat Kesehatan dari Tim Medis Istigotsah Kubro

Maret 30, 2019 Add Comment
Para Personel Tim Medis Istigotsah Kubro NU Lamongan

Gelaran istigotsah kubro yang dihelat jumat (29/3) kemarin, menyisakan banyak cerita yang penting untuk dikulik. Salah satunya adalah kisah perjuangan dari tim medis yang difungsikan guna memberikan pelayanan kesehatan. Dengan ribuan jamaah dan kondisi siang hari yang cukup terik, keberadaan tim ini merupakan unsur vital dalam membantu kesuksesan acara. 

"tim ini terdiri dari pengurus LKNU dan LKKNU Lamongan yang bekerjasama dalam memberikan layanan kesehatan" terang Umayah selaku salah satu personel inti tim medis.

Ia menambahkan bahwa tim medis ini, juga dibantu dari petugas kesehatan dari RSI Nashrul Ummah yang meliputi: 4 orang dokter, 12 paramedis, 5 orang dari bagian umum, 2 petugas dari puskesmas Deket serta 2 petugas dari Klinik POLRES. Selain itu, juga dibantu oleh 21 siswa dari SMK Kesehatan Nurul Ummah Babat.

Sementara itu, dr. Muwardi Romli SpB sebagai ketua PC LKNU Lamongan menambahkan bahwa tim ini dibagi menjadi lima pos kesehatan.

Semua petugas berjumlah 59 orang kami bagi menjadi lima pos, namun tetap bekerja saling koordinasi untuk memberikan pertolongan kepada jama'ah” terang koordinator tim kesehatan saat dimintai keterangan.

Direktur RSI Nashrul Ummah ini juga menambahkan bahwa selain menyiapkan personel, pihaknya juga membawa 4 ambulance dilengkapi dengan emergency kit, oksigen dan obat-obatan.  

khusus pos 1 VVIP yang berada di belakang panggung tersedia poskes standart IGD” imbuhnya

Sebagaimana diketahui, bahwa penyelenggaraan istigotsah kubro yang dilaksanakan atas kerjasama PCNU Lamongan dan Babat mengudangkan ribuan jamaah yang rata-rata para ibu-ibu tua. Untuk itu, kegiatan yang dilakukan dalam rangka memperingati harlah NU ke 96 ini, memerlukan tim medis yang siap memback up berbagai macam kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, termasuk kondisi kesehatan para jamaah. Untuk itulah, tim medis yang bekerja dengan sangat baik ini, merupakan unsur vital yang tak bisa dilepaskan dari kesuksesan acara istigotsah Kubro yang diselenggarakan di Stadion Suraja Lamongan. (Ek)


Video: Istigotsah Kubro Dalam Rangka Harlah NU ke 96 Lamongan & Babat

Maret 29, 2019 Add Comment
Video kemeriahan suasana Istigotsah Kubro dalam rangka memperingati Harlah NU ke 96 yang diselenggarakan oleh PCNU Lamongan bekerjasama dengan PCNU Babat, Jum'at (29
/3) di Stadion Surajaya, Lamongan. 

Jaga Kebersihan Istigotsah Kubro, Tim Semut Sisir Sampah Para Jamaah

Maret 29, 2019 Add Comment

Penyelenggaraan istigotsah kubro yang berlangsung Jumat sore (29/3) di Stadion Surajaya Lamongan, menyisakan sampah yang tak sedikit. Guna menjaga ketertiban dan kebersihan pasca acara, tim LPBI NU mengerahkan pasukan semut untuk membersihkan sampah berserakan yang ditinggalkan oleh para jamaah. Tim ini terdiri dari beberapa elemen, seperti Sakoma, CBP dan KPP.

"kami kerahkan tim ini dengan menyisir berbagai sudut stadion, agar kembali indah dan nyaman" tutur Magfur selaku Korlap

Menurutnya, pasukan disebar keberbagai titik, terutama di area parkir dan tribun yang menjadi obyek tumpukan massa. Dengan tajuk operasi giat lingkungan, pasukan semut ini berhasil mengembalikan kondisi stadion seperti semula, bahkan tambah bersih.

Sebagaimana diberitakan, kegiatan ini dihadiri oleh ribuan massa nahdliyin yang datang dari berbagai wilayah kabupaten Lamongan. Tentu kedatangan para jamaah ini tidak dengan tangan kosong. Berbagai macam bawaan, seperti bekal makan dan minum menjadi sesuatu yang tak bisa dihindari. 

"Untuk itu, LPBI sebagai sayap Nahdlatul Ulama di bidang lingkungan, merasa terpanggil untuk menjaga, merawat dan melestarikan lingkungan agar tetap bersih. Termasuk mengawal kebersihan diberbagai kegiatan yang diselenggarakan NU" imbuhnya

Sebagai korlap, Magfur mengucapakan terimakasih atas kerjasama beberapa elemen yang membantu. Menurutnya, kerja keras ini tak akan menuai kelancaran tanpa bantuan dari berbagai pihak tersebut.

"terutama kami sampaikan kepada para teman-teman Sakoma, CBP, KPP dan LPBI yang semangatnya luar biasa dalam turut sertanya menyukseskan acara istigotsah kubro ini, terutama dibidang kebersihan" imbuhnya. (Ek)

Ketua PCNU Lamongan Tegaskan Selama Punya NU, Indonesia tak Bisa Dihabisi

Maret 29, 2019 Add Comment

Dengan mengusung tema "Mengetuk Pintu Langit, NU Bersatu untuk Indonesia Maju" PCNU Lamongan dan Babat menggelar kegiatan bersama yang dikemas dengan istigotsah kubro. Dihadiri oleh ribuan jamaah, dan beberapa tokoh penting, acara ini sukses diselenggarakan tanpa kendala berarti.

Dalam sambutannya, Dr. Supandi. Ketua PCNU Lamongan mengawali pidatonya dengan mengutip pernyataan seorang intelegen bahwa dari kelahirannya sampai hari ini NU selalu dijadikan sebagai sasaran fitnah dan ingin dihabisi keberadaannya. Bahkan menurutnya, pernah terjadi dalam sebuah masa pergerakan dakwah NU diawasi dan dikontrol oleh negara, tepatnya saat era Orde Baru. 

"Jika bukan didirikan oleh para auliya' dan ulama, pasti NU sebagai organisasi akan hancur" tegasnya 

Selanjutnya, ia menceritakan sekilas kondisi ironi di berbagai negara, bahwa wilayah-wilayah mayoritas islam justru porak poranda dilanda konflik antar saudara, bahkan sesama islam. Menurutnya, ini karena tidak ada organisasi seperti NU yang mampu menyandingkan dengan harmonis antara keislaman dan kenegaraan. Pesannya, warga NU harus menjadi warga negara yang baik.

Ia menambahkan bahwa Indonesia tidak bisa diporak porandakan sebagaimana negara-negara di Timur Tengah, karena masih ada NU yang menjaga keutuhan NKRI.

"Selama NU masih ada, Indonesia tak akan bisa dihabisi" tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, bahwa acara istigotsah kubro dimulai pada pukul 13.00 sampai 16.30. Dengan dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Prof. Dr Said Agil Siraj (Ketum PBNU), Nusron Wahid, Yeni Wahid, Fadeli (Bupati Lamongan) beserta jajarannya, kegiatan ini berjalan dengan penuh khidmat dan kekhusyu'an. (Ek)

Bupati Fadeli: Sebagian Besar Masyarakat Lamongan adalah NU

Maret 29, 2019 Add Comment
dari kiri : Kartika (Wabup Lamongan), Yeni Wahid (Putri Gus Dur), Fadeli (Bupati Lamongan), Prof. Dr. Said Agil Siraj (Ketum PBNU), Kiai Aziz Khoiri (Ketua MUI Lamongan)
Ribuan warga nahdliyin jum'at sore (29/3) memadati stadion Suraja Lamongan. Mereka berduyun menghadiri  istigotsah kubro yang diselenggarakan oleh PCNU Lamongan bersama PCNU Babat. Nampak hadir dalam kegiatan tersebut Prof Dr Said Agil Siraj (Ketum PBNU), Nusron Wahid, Yeni Wahid, Fadeli (Bupati Lamongan) beserta jajarannya.

Dalam sambutannya, Fadeli menyatakan terimakasihnya pada masyarakat NU yang menyelenggarakan acara di Stadion Surajaya dengan penuh ketertiban dan taat aturan. Sebagai orang nomor satu di kota soto, Fadeli juga menyampaikan beberapa capaiannya selama menjadi Bupati. Menurutnya, produk hasil pertanian dan perikanan Lamongan merupakan kualitas paling baik, dan menjadi nomer satu di Jawa Timur.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyampaikan bahwa masyarakat Lamongan mayoritas umat islam, dan yang paling banyak adalah Nahdaltul Ulama.

"warga NU merupakan masyarakat terbesar di Kabupaten Lamongan" tuturnya disambut sorak para jama'ah.


Sementara itu, KH Muhith Fatah dalam sambutan iftitahnya, memberikan kabar gembira bahwa barangsiapa yang bersama berkumpul mengadakan majlis dzikir, maka Allah kelak akan membangkitkan dengan wajah bercahaya. Bahkan dengan mengutip riwayat Ibnu Umar, Kiai Muhith menyatakan bahwa orang-orang yang berdzikir berjamaah (istigotsah, red) akan mendapatkan keberkahan dari Allah berupa balasa surga.

"al-ghanimah majlis dzikir al-jannah" kutipnya dalam sambutannya. (Ek)

Selenggarakan Istigotsah Kubro, PCNU Lamongan dan Babat “Bersatu”

Maret 28, 2019 Add Comment



Ribuan orang terlihat berduyun-duyun menuju GOR Stadion Suraja Lamongan. Siang ini, diperkirakan Lamongan menjadi kota putih karena dipenuhi oleh para jamaah dari berbagai arah. Tepat setelah menunaikan sholat jumat, PCNU Lamongan bekerjasama dengan PCNU Babat akan menggelar Istigotsah Kubro yang diselenggarakan di lapangan sepak bola kebanggaan warga kota soto tersebut. Dengan mengambil tema “NU Bersatu membangun Negeri” kegiatan ini menjadi sejarah tersendiri bagi warga NU Lamongan.

Menurut rencana, dalam Peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke 96 tersebut akan diisi beberapa agenda, salah satunya Istighosah Kubro yang dimulai siang, mulai pukul 13.00 sampai selesai.

Insya Allah akan dihadiri banyak  kiai dan unsur pemerintah,” kata Fauzi Ahmad, selaku ketua Panitia acara.

Baca jugaBupati Fadeli: Sebagian Besar Masyarakat Lamongan adalah NU

Prof. Dr. Said Agil Siraj Ketua Umum PBNU, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawangsa, KH Agus Ali Masyhuri (PWNU Jawa Timur), Bupati Lamongan Fadeli diagendakan akan menghadiri acara ini. Fauzi menambahkan diperkirakan ada ratusan ribu lebih umat Islam akan hadir memeriahkan Harlah NU di Stadion Lamongan.

Untuk menyambut beberapa tamu dan jamaah yang hadir serta tokoh-tokoh penting, kami membutuhkan dan mengajak bekerjasama banyak elemen. Mulai Polres, Rumah Sakit, Pukesmas, TNI, lembaga dan Banom NU, pesantren serta relawan” imbuhnya

Sementara itu, Dr. Supandi selaku ketua PCNU Lamongan merasa bersyukur karena agenda besar ini akhirnya akan terlaksana juga. “Alhamdulillah, Panitia dan para kiai baik di struktur PCNU Lamongan maupun Babat sangat antusias untuk mensukseskan sekaligus memeriahkan Harlah NU ini, sampai hampir setiap hari kami adakan rapat,” ungkapnya

Pak Pandi -sapaan akrab Ketua PCNU Lamongan- menginginkan peringatan Harlah NU semacam ini bisa diselenggarakan setiap tahun. Menurutnya, dengan acara ini semakin menegaskan posisi NU di tengah masyarakat. 

selain mendoakan keselamatan dan keamanan bangsa Indonesia menjelang pemilu, acara ini juga terkandung semangat serta komitmen bahwa PCNU Lamongan dan Babat mampu bersatu, berperan aktif serta berkolaborasi dengan berbagai elemen untuk mempertahankan keutuhan Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)” imbuhnya (Ek)



Inilah Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara

Maret 17, 2019 Add Comment

Tujuh strategi ini dicetuskan pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) bertempat di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta awal 2016. 

Saptawikrama merupakan peneguhan hasil Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, pada 1-5 Agustus 2015 dalam bidang budaya. Ketujuh strategi itu adalah sebagai berikut:
1. Menghimpun dan mengosolidasi gerakan yang berbasis adat istiadat, tradisi dan budaya Nusantara.

2. Mengembangkan model pendidikan sufistik (tarbiyah wa ta’lim) yang berkaitan erat dengan realitas di tiap satuan pendidikan, terutama yang dikelola lembaga pendidikan formal (ma’arif) dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI).
3. Membangun wacana independen dalam memaknai kearifan lokal dan budaya Islam Nusantara secara ontologis dan epistemologis keilmuan.
4. Menggalang kekuatan bersama sebagai anak bangsa yang bercirikan Bhinneka Tunggal Ika untuk merajut kembali peradaban Maritim Nusantara.
5. Menghidupkan kembali seni budaya yang beragam dalam ranah Bhnineka Tunggal Ika berdasarkan nilai kerukunan, kedamaian, toleransi, empati, gotong royong, dan keunggulan dalam seni, budaya dan ilmu pengetahuan.
6. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan gerakan Islam Nusantara.
7. Mengutamakan prinsip juang berdikari sebagai identitas bangsa untuk menghadapi tantangan global.

Orang Nusantara Masuk Islam Sejak Masa Khalifah Umar

Maret 17, 2019 Add Comment
gambar diambil dari status Facebook Kholili Kholil
Oleh:
Kholili Kholil
(Alumni Pesantren Lirboyo-Kediri. Saat ini mengajar di Pesantren Cangaan Pasuruan, Jawa Timur)

Sekitar dua Minggu lalu, saat sedang membuka Tarikh Thabari di bab yang menjelaskan efek Perang Jamal di Madinah saya menemukan keterangan begini:
“Di antara kejadian di masjid itu adalah: Muhammad bin Thalhah—ia ahli ibadah—kebetulan hendak salat di dekat tempat Utsman bin Hunaif berdiri. Sebagian orang Zuthth dan Sayabijah khawatir Muhammad bin Thalhah datang untuk maksud lain..dst”
Zuthth adalah “gipsi”-nya India. Maka perhatian saya tertuju kepada kata “Sayabijah”. Biasanya, kata-kata aneh begini menyimpan misteri (sama seperti saya pernah membaca ttg kelompok pedagang dari Suku Bahro’ bertamu ke Nabi saw, barangkali lain waktu saja Bahro’ ini saya ulas). Apalagi kata Sayabijah ini belum pernah saya temui di kitab tarikh sebelumnya.
***
Dalam Lisanul Arab, Ibn Manzhur berkata bahwa kata Sayabijah juga terkadang disebut dengan Sababijah (السبابجة). Kedua kata ini adalah bentuk plural dari kata Sabiji (سبيجي) dan kata Sabaj (السابج). Menurut penjelasan Ibn Manzhur, beberapa penyair Arab kuno sudah mengenal orang Sababija ini. Bahkan penyair Ibn Mufarragh dari Kabilah Himyar dalam syairnya menyebut Sababija sebagai jagoan. Ibn Duraid menyebut bahwa Sababija ini berasal dari Hind dan bekerja sebagai buruh kapal. Lebih lanjut, Al-Baladzuri menjelaskan bahwa Sababijah dulu tinggal di pesisir Arab dan Persia sejak sebelum Islam.
Pertanyaannya: dari manakah sebenarnya Kaum Sababijah ini?
Ketika membaca ulasan Ibn Manzhur bahwa bentuk tunggal dari Sababijah adalah Sabaj, saya langsung menduga bahwa Sababijah ini adalah orang yang dua abad berikutnya dikenal oleh orang Arab sebagai Zabaj. Zabaj sendiri adalah sebutan orang Arab untuk Jawa atau setidaknya pesisir timur Sumatra. Jadi Sabaj adalah satu dialek yang mendahului penyebutan Zabaj.
Dugaan saya ternyata terbukti. Sejarawan ttg Asia Tenggara terkemuka, Gabriel Ferrand, menulis dalam Encyclopaedia of Islam volume empat bahwa Sababija/Sabaj adalah nama awal bagi Zabaj (baca: Zabag dan Sabag). Jadi Sababija ini adalah orang Nusantara yang sudah bermigrasi ke Timur Dekat (Arab dan sekitarnya).
Zabaj sendiri menurut Prof. Gerini dalam Research of Ptolemy’s Geography berasal dari bahasa Sanskrit untuk pulau Jawa: Chavakha; Javaka; Jabaj; Zabaj. Huruf K dalam Javaka berubah menjadi huruf J dalam Zabaj karena sama seperti kata ”jati” yg dalam bahasa Sanskrit disebut shaka dan menjadi saj dalam Bahasa Arab.
Fakta bahwa Zabaj ini adalah Nusantara bisa kita lihat, misalnya, dalam Masalik wal Mamalik (Jalur dan Kerajaan) karya Ibn Khurdadzbih ketika menjelaskan kepulauan yang terletak setelah Serandib (Ceylon) yg menengahi India dan Cina:
“Di sini ada daerah Zabaj yang dikuasai oleh Maharaja (المهراج). Di kerajaan ini juga ada pulau yang disebut Burthail yang sepanjang malam selalu terdengar suara gendang. Para pelaut menduga ada Dajjal di situ.”
Gerini berpendapat bahwa Pulau Burthail yang ramai dengan suara berisik di dekat Zabaj adalah daerah Riau. Riau, ujar Gerini, berasal dari kata riuh yang berarti ramai atau berisik. Deskripsi Riau ini sangat sesuai dengan keterangan Ibn Khurdadzbih ttg Burthail. Idrisi menambahkan bahwa Zabaj (Ranaj) ini dekat dengan sebuah gunung. Gunung ini dalam buku lain disebut terletak di Salahat dan dekat dengan Pulau Jabah. Kata Salahat ini diidentifikasi oleh para ahli sebagai selat, mungkin Selat Sumatera dan gunung itu barangkali Gunung Krakatau.
Tentang Sababija, Baladzuri menjelaskan begini dalam Futuhul Buldan (Pembebasan Daerah-daerah):
“Kaum Sababijah, Zuthth, dan Andagar ini dulu termasuk tawanan dan pasukan Persia. Orang Persia menganggap mereka berasal dari Sind. Ketika mereka mendengar Kaum Oswari masuk Islam, Sababija dan Zuthth mengikuti jejak Oswari dan mendatangi Abu Musa. Oleh Abu Musa mereka ditempatkan di Basrah.”
Kejadian ini kira-kira terjadi di zaman Sayyidina Umar RA. Di Basrah mereka bekerja sebagai penjaga gerbang (jalawiza) dan sipir penjara. Sekitar tahun 50 Hijriyah, masih menurut Baladzuri, oleh Khalifah Muawiyah beberapa orang Zuthth dan Sababijah ini kemudian dipindah ke Antakya, Turki.
***
Maka Sababijah dalam kitab-kitab tarikh yang disebut telah masuk Islam sejak zaman Umar dan menjadi penjaga Baitul Mal di masa Khalifah Ali ini adalah orang Nusantara. Ferrand mengatakan bahwa fakta ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat penduduk Nusantara adalah buruh kapal yang tangguh di masa itu. Bahkan beberapa di antaranya sudah mengkoloni Madagaskar sebagaimana ditulis oleh Qazwini.
Sababijah yang juga difungsikan sebagai pengusir bajak laut di masa itu mengingatkan saya pada sumber China yang menyebut adanya Kun-lun Slave atau Devil Slave, sebagaimana termaktub dalam anotasi Prof. Hirth di bukunya, Chau Ju-Kua: His Work on The Chinese and Arab Trade. Kun-lun adalah sebutan orang China untuk wilayah kepulauan Melayu. Kun-lun Slave ini dideskripsikan sebagai budak kulit hitam yang “jika berenang mereka membuka mata.” Mirip dengan Sababijah di Basrah, Kun-lun Slave atau budak dari kepulauan Melayu di China selain ditugaskan di laut juga ditugaskan sebagai penjaga gerbang. Sejarawan menyebut budak Kun-lun ini berasal dari Borneo. Ini semakin mengingatkan kita tentang orang Kalimantan yang ada di Madagaskar.
Baladzuri sendiri menjelaskan bahwa tempat tinggal Sababijah saat itu di Thuf yang di masa kini dikenal sebagai Bahrain dan Oman. Memang kedua daerah ini di zaman dulu terkenal dengan intensitas perdagangannya yang tinggi. Abul Faraj Ibn Jakfar dalam bukunya menyebutkan bahwa Sababija sudah ditemui di Iran sejak sebelum Islam. “Setelah Anusyirwan bin Qabadz (Raja Kekaisaran Persia) memakmurkan tiga kota besar,” tulis Ibn Jakfar. “Ia menempatkan orang Sababija untuk menjaganya.”
Maka bisa disimpulkan bahwa sebagian orang Nusantara telah masuk Islam sejak zaman khulafa’ rasyidun di tangan Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari. Wallahu a’lam.

Saat sedang kelelahan ada tamu yang datang. Bagaimana cara bersikap?

Maret 17, 2019 Add Comment
Ilustrasi gambar source: www.doaharianislami.com


Dalam sebuah kesempatan, baginda Nabi agung Muhammad SAW pernah mengeluarkan anjuran yang sarat dengan nuansa penghargaan pada sesama. Yaitu hadits tentang memuliakan tamu.
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه
Barang siapa yang beriman (sempurna) pada Allah Swt dan hari akhir, maka hendaknya memuliakan tamunya”.

Demikianlah penghargaan dan penghormatan yang sangat sempurna, sekira menghormati tamu merupakan bagian dari kesempurnaan seorang mukmin. Sementara tuan rumah kadang memiliki rutinitas aurad atau amaliyah pada waktu tertentu baik berdasarkan ijazah atau inisiatif sendiri yang terkadang lumayan panjang. Tidak jarang saat melakukan rutinitas tersebut, bersamaan dengan datangnya para tamu yang hendak menemuinya. Terkadang ada tamu datang mengucapkan salam, namun tuan rumah dalam kondisi lelah, tidak siap menerima tamu. Kadang tuan rumah juga tak berkenan menemui tamu karena berbagai hal seperti tamu yang menagih hutang. Sementara di Indonesia, salam berfungsi ganda sekaligus sebagai “pengetuk pintu” yang ketika dijawab, berarti dipahami tuan rumah siap menerima kedatangannya.

Pertanyaan :
1.     Mana yang lebih utama antara menemui tamu dan melaksanakan rutinitas wazhifah tertentu ?
2.     Ketika ada tamu mengucapkan salam sementara tuan rumah dalam kondisi lelah, tidak siap atau tidak mau menerima tamu, apakah termasuk ‘udzur yang menggugurkan kewajiban menjawab salam ?
3.     Sebatas mana memuliakan tamu yang dimaksud dalam hadits di atas ?



Jawaban : 
A.     Lebih utama melanjutkan wadzifahnya manakala tamunya masih dalam rangka meminta izin. Dan bila sudah di izinkan menjadi tamu, maka yang lebih utama meninggalkan wadzifahnya.

Referensi
1. Faidl al Qodir, juz 3, hal 228
2. Al Futuhat Ar Robbaniyah, hal 154
3. Tadzkir An Nas, hal 117
4. Bughyah Al Mustarsyidin, hal 67, Dll.

1. فيض القدير - (ج 3 / ص 228)
3053 (الاستئذان) للدخول وهو استدعاء الإذن أي طلبه (ثلاث) من المرات (فإن أذن لك فادخل وإلا) أي وإن لم يؤذن لك (فارجع) لأنه سبحانه وتعالى أمر بالاستئذان بقوله * (فلا تدخلوها حتى يؤذن لكم) * قال ابن العربي رحمه الله تعالى ولا يتعين هذا اللفظ-الى أن قال- صورة الاستئذان أن يقول السلام عليكم أدخل ؟ ثم هو مخير بين أن يسمي نفسه أو لا قال ابن العربي : ولا يتعين هذا اللفظ وفيه انه لا يجوز الزيادة في الاستئذان على الثلاثة نعم إن علم أنه لم يسمع زاد على الأصح عند الشافعية وحكمة كون الاستئذان ثلاثا تكفل ببيانها الحديث الآتي على أثره وفيه أن لرب المنزل إذا سمع الاستئذان أن لا يأذن إذا كان في شغل ديني أو دنيوي كذا قيده الحافظ ابن حجر وليس على ما ينبغي بل الصواب فك القيد.
3054 (الاستئذان ثلاث) من المرات (فالأولى تستمعون) بالتاء المثناة الفوقية أوله بضبط المصنف أي يستمعون أهل المنزل الاستئذان عليهم (والثانية يستصلحون) أي يصلحون المكان ويسوون عليهم ثيابهم ونحو ذلك (والثالثة يأذنون) للمستأذن عليهم (أو يردون) عليه بالمنع

2. الفتوحات الربانيات على شرح الأذكار - النووي (ص: 154-155)
فصل : في أحوال تعرض للذاكر يستحب له قطع الذكر بسببها ثم يعود إليه بعد زوالها) : منها إذا سلم عليه رد السلام ثم عاد إلى الذكر ، وكذا إذا عطس عنده عاطس شمته ثم عاد إلى الذكر، وكذا إذا سمع الخطيب ، وكذا إذا سمع المؤذن أجابه في كلمات الأذان والإقامة ثم عاد إلى الذكر ، وكذا إذا رأى منكرا أزاله ، أو معروفا أرشد إليه ، أو مسترشدا أجابه ثم عاد إلى الذكر ، كذا إذا غلبه النعاس أو نحوه.وما أشبه هذا كله
(قوله وما اشبه ذلك) اي من كل أمر مهم عرض والاشتغال به يمنع من الذكر الاهمية فيه اما لكونه يفوت أو لعظيم فائدته وكثرة مصلحته كالأمر بالمعروف ونحوه على ان القصد من الذكر انما هو عمارة الجنان بذكر الرحمن والقائم بأوامره من أرباب هذه المقام قال الجنيد الصادق يتقلب في اليوم أربعين مرة والمراعي يثبت على حالة واحدة أربعين سنة قال المصنف في شرح المهذب معناه أن الصادق يدور مع الحق حيث دار فإذا كان الفضل الشرعي في الصلاة مثلا صلى وإذا كان في مجالسة العلماء والصالحين والضيفان والعيال وقضاء حاجة مسلم وجبر قلب مكسور ونحو ذلك فعل ذلك الأفضل وترك عادته: وكذلك الصوم والقراءة والذكر والأكل والشرب والجد والمزح والاختلاط والاعتزال والتنعم والا بتذال والمرائي بضد ذلك ولا يترك عادته فهو مع نفسه لا مع الحق اهـ وقال في كتابه بستان العارفين الذي جمعه قال في الرقائق وتوافى قبل اكمال معناه ان الصادق مع الحق كيف كان فإذا كان الفضل في أمر عمل به وإن خالف ما كان عليه وخالف عادته وإذا عارض أهم منه في الشرع ولا يمكنه الجمع بينهما انتقل الى الأفضال ولا يزال هكذا وربما كان في اليوم الواحد عمل مائة حال او ألف أو أكثر على حسب تمكنه من المعارف وظهور الدقائق واللطائف قال وأما المراعي فيلزم حالة واحدة بحيث لو عرض له مهم يرجحه الشرع عليها في بعض الأحوال لم يأت بهذا المهم بل يحافظ على حالته لأنه يراعي بعبادته وحالته المخلوقين فيخاف من التغيير ذهاب محبتهم إياه فيحافظ على بقائها والصادق يريد بعبادته وجه الله تعالى فحيث رجح الشرع حالا صار إليه ولا يعرج على المخلوقين أهـ وقريب من عبارة الجنيد هذه في وصف العارف فقال لون الماء لون الاناء أي ان يكون في كل حال بما هو اولى به فيختلف حاله باختلاف الأحوال كاختلاف لون الماء لاختلاف لون الأناء وقد بسط القونوي في شرح التعرف

3. تذكير الناس للحبيب الإمام العارف بالله أحمد ابن حسن بن عبد الله العطاس ص 117
وقال سيدي رضي الله عنه : لبعض زائريه من السادة العلويين إذا جاءني أحد ممن أحبه  أترك أورادي وأجلس معه, وكان بعض السلف وهو السيد علوي بن عبد الله العيدروس صاحب ثبي يقول : الأوراد تقضى, ومجالسة الإخوان لا تقضى.

4. بغية المسترشدين ص: 67
(فائدة): يندب تأخير الصلاة عن أول وقتها في سبع وعشرين صورة: الصبي علم بلوغه أثناء الوقت بالسن، ولمن غلبه النوم مع سعة الوقت، ومن رجا زوال عذره قبل فوات الجمعة، ومن تيقن الجماعة، ولدائم حدث رجا الانقطاع، وللخروج من الأمكنة التي تكره فيها الصلاة، ولمن عنده ضيف حتى يطعمه ويؤويه،

Jawaban : 
B.   Termasuk udzur disaat salam itu disampaikan pada situasi yang tidak dianjurkan (mathlub), seperti meminta izin (isti’dzan) sementara tidak diketahui dalam rumah itu ada orang atau tidak, atau yang memberi salam tahu bahwa tuan rumah dalam kondisi tidak patut untuk menjawab salam.

Referensi
1. Tafsir al Fakhr ar Rozi, juz 1, hal 312
2. Mirqoh al Mafatih, juz 13, hal 457
3. Mughni al Muhtaj, juz 5, hal 249
4. Roudloh at Tholibin, juz 10, hal 231, Dll.

1. تفسير الفخر الرازى - (ج 1 / ص 312)
السؤال الأول : الاستئناس عبارة عن الأنس الحاصل من جهة المجالسة ، قال تعالى ولا مستأنسين لحديث ، وإنما يحصل ذلك بعد الدخول والسلام فكان الأولى تقديم السلام على الاستئناس فلم جاء على العكس من ذلك ؟
 والجواب : عن هذا من وجوه : أحدها : ما يروى عن ابن عباس وسعيد بن جبير ، إنما هو حتى تستأذنوا فأخطأ الكاتب ، وفي قراءة أبي : حتى تستأذنوا لكم والتسليم خير لكم من تحية الجاهلية والدمور ، وهو الدخول بغير إذن واشتقاقه من الدمار وهو الهلاك كأن صاحبه دامر لعظم ما ارتكب ، وفي الحديث "من سبقت عينه استئذانه فقد دمر ، واعلم أن هذا القول من ابن عباس فيه نظر لأنه يقتضي الطعن في القرآن الذي نقل بالتواتر ويقتضي صحة القرآن الذي لم ينقل بالتواتر وفتح هذين البابين يطرق الشك إلى كل القرآن وأنه باطل وثانيها : ما روي عن الحسن البصري أنه قال إن في الكلام تقديماً وتأخيراً ، والمعنى : حتى تسلموا على أهلها وتستأنسوا ، وذلك لأن السلام مقدم على الاستئناس ، وفي قراءة عبدالله : حتى تسلموا على أهلها وتستأذنوا ، وهذا أيضاً ضعيف لأنه خلاف الظاهر وثالثها : أن تجري الكلام على ظاهره. ثم في تفسير الاستئناس وجوه : الأول : حتى تستأنسوا بالإذن وذلك لأنهم إذا استأذنوا وسلموا أنس أهل البيت ، ولو دخلوا بغير إذن لاستوحشوا وشق عليهم الثاني : تفسير الاستئناس بالاستعلام والاستكشاف استفعال من آنس الشيء إذا أبصره ظاهراً مكشوفاً ، والمعنى حتى تستعلموا وتستكشفوا الحال هل يراد دخولكم. ومنه قولهم استأنس هل ترى أحداً ، واستأنست فلم أر أحداً أي تعرفت واستعلمت ، فإن قيل وإذا حمل على الأنس ينبغي أن يتقدمه السلام كما روي أنه عليه الصلاة والسلام كان يقول : "السلام عليكم أأدخل" قلنا المستأذن ربما لا يعلم أن أحداً في المنزل فلا معنى لسلامه والحالة هذه ، والأقرب أن يستعلم بالاستئذان هل هناك من يأذن ، فإذا أذن ودخل صار مواجهاً له فيسلم عليه والثالث : أن يكون اشتقاق الاستئناس / من الإنس وهو أن يتعرف هل ثم إنسان ، ولا شك أن هذا مقدم على السلام والرابع : لو سلمنا أن الاستئناس إنما يقع بعد السلام ولكن الواو لا توجب الترتيب ، فتقديم الاستئناس على السلام في اللفظ لا يوجب تقديمه عليه في العمل.

2. مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح - (ج 13 / ص 457)
باب الاستئذان بسكون الهمز ويبدل ياء ومعناه طلب الإذن والأصل فيه قوله تعالى يا أيها الذين آمنوا لا تدخلوا بيوتا غير بيوتكم حتى تستأنسوا وتسلموا على أهلها النور الآيات قال الطيبي وأجمعوا على أن الاستئذان مشروع وتظاهرت به دلائل القرآن والسنة والأفضل أن يجمع بين السلام والاستئذان واختلفوا في أنه هل يستحب تقديم السلام أو الاستئذان والصحيح تقديم السلام فيقول السلام عليكم أدخل وعن الماوردي أن وقعت عين المستأذن على صاحب المنزل قبل دخوله قدم السلام وإلا قدم الاستئذان قلت وهو بظاهره يخالف ما سبق من حديث السلام قبل الكلام
الفصل الأول عن أبي سعيد الخدري رضي الله تعالى عنه قال أتانا أبو موسى أي الأشعري قال أي أبو موسى استئناف بيان لعله الإتيان أن عمر رضي الله تعالى عنه أرسل إلي أن آتيه أي بأن أجيئه فأتيت بابه فسلمت ثلاثا أي ثلاث مرات غير متواليات على ما هو الظاهر من الأدب المتعارف والمراد به سلام الإيذان وهو قد يكون مع أدخل وقد يتجرد عنه اكتفاء وسيأتي بيان حكمة التثليث فلم يرد أي عمر أو أحد علي أي الجواب فرجعت أي لقوله تعالى وإن قيل لكم ارجعوا فارجعوا هو أزكى لكم النور والسكوت في هذا المقام دليل على الإعراض فهو في معنى الأمر بالرجوع فرجعت

3. مغني المحتاج - (ج 5 / ص 249)
ولو كتب كتابا وسلم عليه فيه أو أرسل رسولا فقال : سلم على فلان فإذا بلغه خبر الكتاب والرسالة لزمه الرد ، وهل صيغة إرسال السلام مع الغير السلام على فلان أو يكفي سلم لي على فلان كما هو ظاهر ما مر ؟ يؤخذ من كلام التتمة الثاني ، وعبارته أنه لو ناداه من وراء ستر أو حائط وقال : السلام عليك يا فلان ، أو كتب كتابا وسلم عليه فيه أو أرسل رسولا فقال : سلم على فلان

4. روضة الطالبين - (ج 10 / ص 231)
الحادية عشرة قال المتولي ما يعتاده الناس من السلام عند القيام ومفارقة القوم دعاء وليس بتحية فيستحب الجواب عنه ولا يجب قلت هذا الذي قاله المتولي قاله شيخه القاضي حسين وقد أنكره الشاشي فقال هذا فاسد لأن السلام سنة عند الانصراف كما هو سنة عند القدوم واستدل بالحديث الصحيح في سنن أبي داود والترمذي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا انتهى أحدكم إلى المجلس فليسلم فإذا أراد أن يقوم فليسلم فليست الأولى بأحق من الآخرة قال الترمذي حديث حسن  والله أعلم

5. مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج [17/ 254]
و (لا) يسن ابتداؤه (على قاضي حاجة) للنهي عنه في سنن ابن ماجه، ولأن مكالمته بعيدة عن الأدب، والمراد بالحاجة حاجة البول والغائط، ولا على المجامع بطريق الأولى (و) لا على (آكل) - بالمد - لشغله به (و) لا على من (في حمام) لاشتغاله بالاغتسال، وهو مأوى الشياطين، وليس موضع تحية. واستثنى مع ذلك مسائل كثيرة، منها المصلي، ومنها المؤذن، ومنها الخطيب، ومنها الملبي في النسك، ومنها مستغرق القلب بالدعاء، وبالقراءة كما بحثه الأذرعي، ومنها النائم أو الناعس، ومنها الفاسق والمبتدع؛ لأن حالتهم لا تناسبه. والضابط كما قال الإمام أن يكون الشخص على حالة لا يجوز أو لا يليق بالمروءة القرب منه (ولا جواب) واجب (عليهم) لو أتي به لوضعه السلام في غير محله لعدم سنه. واستثنى الإمام من الأكل ما إذا سلم عليه بعد الابتلاع وقبل وضع لقمة أخرى فيسن السلام عليه ويجب عليه الرد، وكذا من كان في محل نزع الثياب في الحمام كما جرى عليه الزركشي وغيره.

Jawaban : 
C.   Sebatas pelayanan yang memadahi dengan mempertimbangkan tradisi yang berlaku dan tidak memberatkan tuan rumah, seperti menemui tamu dengan wajah yang ramah, menghidangkan suguhan semampunya, dll.

Referensi
1. Faidl al Qodir, juz 1, hal 417
2. Fath al Bari, juz 10, hal 446
3. Ihya’ Ulum ad Din, juz 2, hal 17
4. Faidl al Qodir, juz 6, hal 272, dll.

1. فيض القدير - (ج 1 / ص 417)
(إذا جاءكم الزائر) أي المسلم الذي قصد زيارتكم (فأكرموه) ندبا مؤكدا ببشر وطلاقة وجه ولين جانب وقضاء حاجة وضيافة بما يليق بحال الزائر والمزور

2. فتح الباري - ابن حجر (10 /446)
ثم الأمر بالإكرام يختلف باختلاف الأشخاص والأحوال فقد يكون فرض عين وقد يكون فرض كفاية وقد يكون مستحبا ويجمع الجميع أنه من مكارم الأخلاق قوله ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه زاد في حديث أبي شريح جائزته قال وما جائزته يا رسول الله قال يوم وليلة والضيافة ثلاثة أيام الحديث وسيأتي شرحه بعد نيف وخمسين بابا في باب إكرام الضيف إن شاء الله تعالى 

3. إحياء علوم الدين - (ج 2 / ص 17)
الخامس أن يقدم من الطعام قدر الكفاية فإن التقليل عن الكفاية نقص في المروءة والزيادة عليه تصنع ومراءاة لا سيما إذا كانت نفسه لا تسمح بان يأكلوا الكل إلا أن يقدم الكثير وهو طيب النفس لو أخذوا الجميع ونوى أن يتبرك بفضلة طعامهم

4. فيض القدير - (ج 6 / ص 272)
(ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر) أي يوم القيامة وصفه به لتأخره عن أيام الدنيا ولأنه أخر إليه الحساب والإيمان به تصديق ما فيه من الأحوال والأهوال (فليكرم ضيفه) الغني والفقير بطلاقة الوجه والإتحاف والزيارة وقد عظم شأن الجار والضيف حيث قرر حقهما بالإيمان بالله واليوم الآخر قال ابن تيمية : ولا يحصل الامتثال إلا بالقيام بكفايته فلو أطعمه بعض كفايته وتركه جائعا لم يكن له مكرما لانتفاء جزء الإكرام وإذا انتفى جزءه انتفى كله وفي كتاب المنتخب من الفردوس عن أبي الدرداء مرفوعا إذا أكل أحدكم مع الضيف فليلقمه بيده فإذا فعل ذلك كتب له به عمل سنة صيام نهارها وقيام ليلها ، ومن حديث قيس بن سعد من إكرام الضيف أن يضع له ما يغسل به حين يدخل المنزل ومن إكرامه أن يركبه إذا انقلب إلى منزله إن كان بعيدا ومن إكرامه أن يجلس تحته ، وأخرج ابن شاهين عن أبي هريرة يرفعه من أطعم أخاه لقمة حلوة لم يذق مرارة يوم القيامة

5. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين (2 /443)
(ومن كان يؤمن با واليوم الآخر) إيماناً كاملاً (فليكرم ضيفه) الغني والفقير بحسن البشر والمبادرة بما تيسر عنده من الطعام من غير كلفة ولا إضرار بأهله إلا أن يرضوا وهم بالغون عاقلون، وعليه يحمل ما ورد من الثناء على الأنصاري وامرأته في إيثارهما الضيف على أنفسهما. والضيف لغة يشمل الواحد والجمع من أضفته وضيفته: إذا أنزلته بك ضيفاً، وضفته وتضيفته: إذا نزلت عليه ضيفاً

6. تحفة الأحوذي - (ج 6 / ص 86)
( أبصرت عيناي رسول الله صلى الله عليه و سلم وسمعته أذناي حين تكلم به ) فائدة ذكره التوكيد ( من كان يؤمن بالله واليوم الاخر ) المراد بقوله يؤمن الايمان الكامل وخصه بالله واليوم الاخر إشارة إلى المبدأ والمعاد أي من امن بالله الذي خلقه وامن بأنه سيجازيه بعمله ( فليكرم ضيفه ) قالوا إكرام الضيف بطلاقة الوجه وطيب الكلام والإطعام ثلاثة أيام في الأول بمقدوره وميسوره والباقي بما حضره من غير تكلف ولئلا يثقل عليه وعلى نفسه وبعد الثلاثة يعد من الصدقات إن شاء فعل وإلا فلا ( جائزته ) هي العطاء مشتقة من الجواز لأنه حق جوازه عليهم وانتصابه بأنه مفعول ثان للإكرام لأنه في معنى الاعطاء أو هو كالظرف أو منصوب بنزع الخافض أي بجائزته ( قال يوم وليلة ) أي جائزته يوم وليلة

*) Hasil Keputusan Bahtsul Masail ke-28 Forum Musyawarah Pondok Pesantren se-Jawa Madura (FMPP) di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, 15-16 April 2015