Berita

FIKROH NAHDLIYAH

Bahtsul Masail

TERBARU

LDNU Lamongan dan Prodi PAI Unisla Gelar Studium General bersama Ulama Besar Lebanon

Oktober 08, 2019 Add Comment

nulamongan.or.id, Lamongan- Maraknya paham keislaman yang jamak menyulut kerasahan dan pertikaian, menjadi perhatian tersendiri bagi Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Lamongan. Dengan menggandeng Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Kabupaten Lamongan, Prodi PAI menggelar Studium General di Masjid Muhadharatul Afkar pada hari Selasa, (8/10).

Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Samir ibn Abdurrahman al-Khouli ar-Rifa’i banyak menyingung aqidah ahlu sunnah wal jamaah melalui beberapa hal. Yakni aqidah tanzih, bahwa Allah sesuai paham aswaja maha suci dari segala bentuk, arah dan ukuran. Dengan mengutip surah al-Syuro ayat 11, laisa ka mitslihi syai’ (bahwa Allah tidak menyerupai apapun).

Allah tidak serupa dengan seluruh makhluk, baik dari segi bentuk, ukuran, arah, tempat. Maha suci Allah dari segala sesuatu, baik dzat-Nya maupun sifatnya” terang Syaikh Samir sebaimana diterjemahkan oleh Ustadz Nur Rahmat.
Untuk menegaskan tentang ketauhidan, Syaikh Samir juga mengutip beberapa kaidah pokok yang diikuti oleh peserta daurah ilmiyah. Misalnya sebuah qoul yang menyatakan: Allahu maujudun bi laa makan (Allah ada tanpa tempat); Mahma tashowwarta bi baalika, fallahu bi khilafi dzalik (apapun yang terlintas/ tergambar/ terbayang dalam benakmu, maka Allah bukan seperti itu).

Dalam kesempatan terakhir, Syaikh yang menjadi Guru besar di Global University Lebanon ini mengijazahkan sebuah amalan, yang diajarkan oleh Rasulullah kepada para peserta studium general.

Gelaran ini, tampak meriah karena selain dihadiri oleh ratusan mahasiswa, juga turut hadir ketua PCNU Lamongan (H. Supandi Awaludin), Dr. Zulkifli Lubis dan Ir. Nuril Badriyah selaku wakil rektor I dan II, serta Ir. Wardoyo selaku ketua Yayasan Unisla. Begitupun juga dengan jajaran pengurus LDNU Lamongan yang turut mengawal acara selama berlangsung. (Ek)

Terima Kunjungan Partai Gerindra, Ketua PCNU Lamongan terangkan 9 Pedoman Politik Warga NU

September 24, 2019 Add Comment


nulamongan.or.id, Lamongan- Nahdlatul Ulama dengan massa yang besar selama ini menjadi daya tarik tersendiri bagi partai politik. Selain itu, NU juga dipandang jamak memberikan sikap dan pandangan-pandangan politik yang cenderung akomodatif non konfrontatif. Apalagi sikap NU lazim didasari pada khazanah pemikiran islam. Hal inilah yang seakan menjadi daya tarik Partai Gerinda untuk sowan ke Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Lamongan (24/9)

Beberapa pengurus gerindra serta anggota dewan dari partai berlambang kepala garuda itu, bertemu dengan jajaran pengurus inti PCNU Lamongan. Pada delegasi partai ini, kemudian diterima di ruang kantor PCNU Lamongan.

Dalam suasana penuh keakraban dan kehangatan, Drs. H. Tsalis Fahmi selaku ketua DPC Gerindra memperkenalkan satu persatu pengurus DPC. Dalam keterangannnya di hadapan para Kiai, Tsalis menyatakan bahwa maksud dan tujuannya datang ke PCNU Lamongan tak lain untuk silaturahmi sekaligus menyatakan bahwa dari ranting sampai DPC pengurus Gerindra adalah kader-kader NU.

menjelang pemilu, kami selalu berkoordinasi dan berkomunikasi serta meminta arahan dari PCNU” ungkapnya

Pernyataan ini, dipertegas oleh H. Srinoto selaku ketua fraksi Gerindra, yang didampingi oleh Imam Fadlli (Sekretaris Fraksi) dan anggota fraksi (Hartono serta Ansori) yang menyatakan bahwa kadernya yang menjadi anggota dewan harus selalu berkoordinasi dengan PCNU.

Pertemuan ini, juga sekaligus menyinggung terkait agenda politik kabupaten Lamongan 2020 mendatang, yaitu momentum pemilihan kepala daerah. Dalam konteks ini, ketua PCNU Lamongan menegaskan bahwa sampai sekarang belum memutuskan calon yang didukung dalam pilkada besok, karena akan dikaji secara mendalam dengan mempertimbangkan kemaslahatan umum melalui lajnah siyasah.

hasil kajian kami, tentu juga akan kami sowankan ke Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, yang disana juga akan dikaji ulang” terang Dr. Supandi Awaludin selaku Ketua PCNU Lamongan

Ia juga menyatakan bahwa PCNU Lamongan memiliki pandangan dan sikap politik yang lebih pada politik kebangsaan, karena menurutnya  NU juga memiliki pedoman politik yang jelas. Dan pedoman itu, menjadi standar sikap politik oleh warga NU.

NU adalah organisasi sosial keagamaan, maka NU berkewajiban mengayomi semua” pungkasnya

Pesan Ya Jabbar Ya Qahhar di Balik Lahirnya NU

Agustus 27, 2019 Add Comment

Tepat pada 31 Januri 2019, Nahdlatul Ulama berusia 93 tahun dalam itungan tahun masehi. Sedangkan pada bulan Rajab 1440 yang akan mendatang, NU menginjak umur 96 tahun. Selama hampir satu abad tersebut, NU sejak awal kelahirannya hingga sekarang telah berhasil memberikan sumbangsih terhadap kehidupan beragama di tengah kemajemukan bangsa Indonesia.

Semakin teguhnya organisasi para santri dan kiai di tengah terpaan berbagai macam tuduhan negatif dan upaya deligitimasi (penggembosan) tidak lepas dari peran para pendiri NU. KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, dan kiai-kiai lain memberikan pemikiran dan teladan berarti bagi warga NU untuk selalu melangkah di tengah perubahan zaman.

Tegaknya Nahdliyin (warga NU) dalam menjaga marwah atau kehormatan organisasi tidak lepas dari tirakat para pendiri. Sepelik apapun persoalan bangsa atau problem yang menimpa NU secara langsung, Nahdliyin tidak lepas dari upaya batin, baik melakukan istighotsah, tahlil, dzikir, wirid, membaca shalawat nariyah, membaca hizib nashar, dan lain-lain.

Hal itu sangat terkait dengan lahirnya NU yang telah melalui upaya lahir dan batin. Bahkan, KH Hasyim Asy’ari mengonformasi atau mengabarkan langsung bahwa para telah mendapat ridha Allah SWT untuk mendirikan jam’iyah (organisasi). Riwayat ini dijelaskan ketika Kiai Hasyim Asy’ari berinteraksi murid yang menjadi utusannya, KH As’ad Syamsul Arifin untuk memberikan pesan-pesan kepada guru Kiai Hasyim Asy’ari di Madura, KH Cholil Bangkalan (1820-1923).

Dalam proses lahirnya NU, Kiai Hasyim Asy’ari melakukan semacam ‘korespondensi’ dengan Kiai Cholil Bangkalan lewat santri As’ad Syamsul Arifin. Setelah melalui beberapa kali perjalanan dari Tebuireng ke Bangkalan, Madura, Kiai Hasyim Asy’ari mendapat petunjuk tongkat dari tasbih yang diberikan Kiai Cholil kepada santri As’ad Syamsul Arifin.

Setelah petujuk kedua berupa tasbih diberikan As’ad ke Kiai Hasyim Asy’ari, beliau bertanya kepada As’ad: “Apakah ada pesan lain lagi dari Bangkalan?” Kontan As’ad hanya menjawab: “Ya Jabbar, Ya Qahhar”, dua Asmaul Husna tarsebut diulang oleh As’ad hingga 3 kali sesuai pesan sang guru. Kiai Hasyim Asy’ari kemudian berkata, “Allah SWT telah memperbolehkan kita untuk mendirikan jam’iyyah”. (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

Awalnya, KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) sekitar tahun 1924 menggagas pendirian Jam’iyyah yang langsung disampaikan kepada Kiai Hasyim Asy’ari untuk meminta persetujuan. Namun, Kiai Hasyim tidak lantas menyetujui terlebih dahulu sebelum ia melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT.

Sikap bijaksana dan kehati-hatian Kiai Hasyim dalam menyambut permintaan Kiai Wahab juga dilandasi oleh berbagai hal, di antaranya posisi Kiai Hasyim saat itu lebih dikenal sebagai Bapak Umat Islam Indonesia (Jawa). Kiai Hasyim juga menjadi tempat meminta nasihat bagi para tokoh pergerakan nasional. Sehingga ide untuk mendirikan sebuah organisasi harus dikaji secara mendalam.

Hasil dari istikharah Mbah Hasyim dikisahkan oleh KH Raden As’ad Syamsul Arifin (1897-1990), Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Asembagus, Situbondo. Mbah As’ad mengungkapkan, petunjuk hasil dari istikharah Mbah Hasyim justru tidak jatuh ditangannya untuk mengambil keputusan, melainkan diterima oleh KH Cholil Bangkalan, yang juga guru Mbah Hasyim dan Mbah Wahab.

Dari petunjuk tersebut, Mbah As’ad yang ketika itu menjadi santri Mbah Cholil berperan sebagai mediator antara Mbah Cholil dan Mbah Hasyim. Ada dua petunjuk yang harus dilaksanakan oleh Mbah As’ad sebagai penghubung atau wasilah untuk menyampaikan amanah Mbah Cholil kepada Mbah Hasyim. (Choirul Anam, 2010: 72)

Hal ini merupakan bentuk komitmen dan ta’dzim santri kepada gurunya apalagi terkait persoalan-persoalan penting dan strategis. Ditambah tidak mudahnya bolak-balik dari Bangkalan ke Tebuireng di tengah situasi penjajahan saat itu.

Petunjuk pertama, pada akhir tahun 1924 santri As’ad diminta oleh Mbah Cholil untuk mengantarkan sebuah tongkat ke Tebuireng. Penyampaian tongkat tersebut disertai seperangkat ayat Al-Qur’an Surat Thaha ayat 17-23 yang menceritakan Mukjizat Nabi Musa AS sebagai berikut:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ (17) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ (18) قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ (19) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ (20) قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ (21) وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَىٰ (22) لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى

Artinya:
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar."

Petunjuk kedua, kali ini akhir tahun 1925 santri As’ad kembali diutus Mbah Cholil untuk mengantarkan seuntai tasbih lengkap dengan bacaan Asmaul Husna (Ya Jabbar, Ya Qahhar. Berarti menyebut nama Tuhan Yang Maha Perkasa) ke tempat yang sama dan ditujukan kepada orang sama yaitu Mbah Hasyim.

Setibanya di Tebuireng, santri As’ad menyampaikan tasbih yang dikalungkannya dan mempersilakan Mbah Hasyim untuk mengambilnya sendiri dari leher As’ad. Bukan bermaksud As’ad tidak ingin mengambilkannya untuk Mbah Hasyim, melainkan As’ad tidak ingin menyentuh tasbih sebagai amanah dari Mbah Cholil kepada Mbah Hasyim. Sebab itu, tasbih tidak tersentuh sedikit pun oleh tangan As’ad sepanjang perjalanan dari Bangkalan ke Tebuireng. Wallahu’alam.

Arti Lambang Nahdlatul Ulama

Agustus 27, 2019 Add Comment


Lambang NU merupakan hasil istikharah Kiai Ridwan Abdullah. Ia adalah seorang kiai yang alim, tapi memiliki kelebihan yang lain, yaitu terampil melukis. Ia hanya diberi waktu satu setengah bulan untuk menyelesaikan tugasnya itu. Ternyata dengan waktu yang ditentukan itu, dia tak mampu membuatnya. Ia tidak mendapatkan inspirasi yang sesuai dengan keyakinan hati. 

Berikut deskripsi lambang NU sebagaimana dijelaskan dalam Antologi Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah NU

1. Bola dunia adalah tempat manusia berasal dan tinggal. Hal ini sesuai dengan surat Thaha ayat 55. 

2. Tali atau tambang yang mengelilingi bola dunia. Ini artinya adalah lambang ukhuwah, atau persaudaraan. Ini berdasarkan ayat 103 dalam surat Ali Imran.

3. Peta Indonesia terlihat. Meskipun NU menggunakan lambang bola dunia, tapi yang tampak di permukaan adalah peta Indonesia. Ini melambangkan NU didirikan di Indonesia, berjuang di Indonesia.

4. Dua simpul ikatan di bagian bawah melambangkan hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horizontal dengan sesama umat manusia. 

5. Untaian tampar tambang yang berjumlah 99 melambangkan nama-nama terpuji bagi Allah (Asmaul Husna) yang berjumlah 99. 

6. Lima bintang di atas bola dunia. Bintang yang berada di tengah berukuran besar dibanding empat yang lainnya. Bintang paling besar itu melambangkan Rasulullah, sementara yang empat melambangkan sahabatnya yang mendapat julukan Khulafaur Rasyidin yakni Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. 

7. Empat bintang di bawah bola dunia melambangkan empat imam mazhab Ahlussunah wal Jamaah yaitu Imam Maliki, Imam Syafi'i, Imam Hanafi, dan Imam Hanbali. 

8. Jumlah bintang secara keseluruhan ada sembilan. Ini bermakna Wali Songo (sembilan ulama penyebar Islam).

9. Tulisan Nahdlatul Ulama dalam huruf Arab melintang di tengah bumi untuk menunjukkan nama organisasi tersebut, Nahdlatul Ulama, kebangkitan para ulama. 

Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar mengatakan, huruf dladl pada tulisan Nahdlatul Ulama itu berukuran panjang, melintasi bola dunia. Hal ini melambangkan, NU akan mendldadlkan dunia. Dladl bisa dimaknakan kepada hadits yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang paling pasih dalam mengucapkan huruf dladl.  

10. Warna dasar lambang adalah hijau sebagai lambang kesuburan.

11. Tulisan berwarna putih sebagai lambang kesucian. 

Kiai Ridwan Abdullah adalah santrinya Syaikhona Cholil Bangkalan, sebagaimana umumnya para kiai pendiri NU yang lain. Ia merupakan kiai yang total dalam berorganisasi. Buku Antologi Sejarah, Istilah, Amaliyah, dan Uswah NU menggambar sosoknya demikian: 

Sejak terjun dalam organisasi Kiai Ridwan terpaksa mengurangi kesibukannya mengurus ekonomi. DUlu ia punya toko kain di Jalan Kramat Gantung sekaligus tailor. Toko itu kemudian diserahkan kepada adiknya. 
Rumah milik mertuanya di Bubutan juga diserahkan untuk kepentingan NU. Lantai bawah untuk percetakan NU, sedangkan lantai atas dipakai untuk sekretariat dan ruang pertemuan.
Setiap ada anak mau berangkat mondok dan sowan kepadanya, selain diberi nasihat dan wejangan, juga tidak ketinggalan diberikan uang saku untuk bekal. Padahal dia sendiri sesungguhnya jarang punya uang banyak.
Source : (NU Online

Ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib Memindahkan Ibu Kota Negara

Agustus 27, 2019 Add Comment

Ali bin Abi Thalib membuat keputusan besar. Khalifah keempat ini memindahkan ibu kota negara dari Madinah ke Kufah. Tindakan ini luar biasa berani karena tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh Rasulullah SAW dan ketiga Khalifah awal, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Ini cara Imam Ali melakukan pemisahan urusan politik dan agama. Apa yang melatarbelakangi keputusan itu? Mari kita simak penjelasannya.

Khalifah Utsman terbunuh pada 17 Juni tahun 656. Khalifah berusia 79 tahun ini berkuasa selama 12 tahun. Kabarnya enam tahun pertama dilalui pemerintahannya dengan gemilang. Namun, karena tidak ada pembatasan masa jabatan, Khalifah Utsman terus berkuasa, meski usianya sudah sepuh dan beliau tidak lagi sepenuhnya dapat mengontrol negara yang sudah meluas melewati jazirah Arab.

Singkat cerita, ketidakpuasan meletus dan pemberontak membunuh Khalifah di rumahnya saat beliau tengah membaca Al-Qur’an.

Pemberontak dari Mesir menguasai Madinah selama 5 hari, dan sampai hari ketiga, jenazah Khalifah Utsman tidak bisa dikuburkan. Akhirnya, jasad beliau berhasil dikuburkan di tempat yang tidak biasa, bukan di dekat kuburan Nabi dan dua khalifah sebelumnya. Imam Ali kemudian dibai’at menjadi Khalifah keempat pada 24 Juni 656–hari ketujuh setelah wafatnya Utsman, meski Imam Ali sebelumnya menolak dipilih.

Namun, kemudian muncul suara-suara yang menggugat pemilihan Imam Ali karena hanya sedikit sahabat besar yang tersisa di Madinah. Meluasnya kekuasaan Islam membuat para sahabat menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Mu’awiyah yang menjadi Gubernur di Damaskus. Mereka merasa suara mereka tidak didengar dan tidak terwakili dalam pemilihan Imam Ali sebagai khalifah.

Dua sahabat Nabi, Thalhah dan Zubair, bergerak ke Mekkah. Istri Nabi, Siti Aisyah, tengah melakukan umrah di Mekkah ketika Utsman terbunuh. Mendengar Imam Ali yang terpilih menjadi Khalifah, Siti Aisyah memutuskan bertahan tinggal di Mekkah dan bersama-sama penduduk Mekkah meminta Khalifah Ali bin Abi Thalib mengadili para pembunuh Khalifah Utsman.

Khalifah Ali meminta umat untuk cooling down terlebih dahulu. Keengganan Imam Ali memenuhi tuntutan itu membuat beliau dituduh terlibat di belakang pemberontakan yang mengakibatkan wafatnya Utsman. Kemudian Thalhah, Zubair, dan Siti Aisyah bergerak ke Basrah bersama pasukannya untuk memobilisasi massa melawan Khalifah Ali.

Imam Ali meminta penduduk Madinah bersiap perang. Mereka tidak segera merespons permintaan Imam Ali. Butuh waktu untuk Ali mengumpulkan relawan bergerak ke Basrah. Singkat cerita, terjadilah peperangan antara menantu Nabi, Khalifah Ali bin Abi Thalib, dan istri Nabi, Siti Aisyah. Pasukan Ali berjumlah 20 ribu dan pasukan Siti Aisyah berjumlah 30 ribu.

Dikabarkan tidak kurang dari 18 ribu umat Islam dari kedua belah pihak terbunuh dalam perang saudara ini, termasuk Thalhah dan Zubair, dan 3.000 orang lainnya terluka.

Selepas perang yang dimenangkan Khalifah Ali, Siti Aisyah diantar kembali ke Madinah dengan penghormatan dan pengawalan lengkap. Namun, pilihan untuk Imam Ali hendak ke mana sekarang?

Kembali ke Madinah ketika suasana masih tidak kondusif mengingat pendukung Utsman masih membara dan istri Nabi Siti Aisyah yang baru saja dikalahkan dalam pertempuran juga akan menetap di Madinah. Tentu tidak nyaman Khalifah Ali kembali ke Madinah.

Bagaimana kalau ke Damaskus? Tidak mungkin! Mu’awiyah berkuasa di sana dan sedang mengumpulkan kekuatan untuk menyerang Khalifah Ali. Atau ke Mekkah saja? Tidak mungkin. Siti Aisyah berhasil memulai perlawannya justru dari Mekkah dengan dukungan 3000 relawan dan bantuan Gubernur Mekkah.

Bagaimana kalau ke Basrah? Meskipun Khalifah Ali menang perang, namun sebelum beliau tiba di Basrah, Thalhah, Zubair, dan Siti Aisyah telah lebih dulu meraih simpati dan dukungan penduduk Basrah. Basrah dan Mekkah bukan pilihan bijak.

Maka, Imam Ali memutuskan untuk menetap di Kufah dan sekaligus memindahkan ibu kota negara dari Madinah ke Kufah. Selain latar belakang kondisi sosial politik di atas, tindakan Imam Ali ini luar biasa dampaknya. Beliau belajar dari masuknya pemberontak ke Ibu Kota Madinah yang telah mengotori kesucian kota Madinah.

Politik kekuasaan di kota Nabi yang suci sungguh tak terbayangkan. Pemindahan ibu kota dari kota suci Nabi ke wilayah yang cukup jauh, yaitu Kufah (Irak sekarang), membuat simbol agama (Madinah) dipisahkan dengan persoalan politik. Secara tidak langsung, Imam Ali telah berusaha menarik batas antara agama dan politik.

Imam Ali juga tidak mengambil kesempatan memindahkan ibu kota ke Mekkah, karena kalau terjadi penyerangan maka Ka’bah menjadi taruhannya. Terbukti kelak pada masa Dinasti Umayyah ketika Abdullah bin Zubair memisahkan diri dari Dinasti Umayyah dan menjadikan Mekkah sebagai pusat pergerakannya, keponakan Siti Aisyah ini bukan saja terbunuh di sekitar Ka’bah tapi kota Mekkah diserang panah berapi dan diblokade selama 6 bulan oleh pasukan al-Hajjaj bin Yusuf.

Ironisnya, bukan saja banyak penduduk Mekkah dan jamaah haji yang terbunuh, tapi Ka’bah pun sempat terbakar akibat serangan panah api. Inilah akibatnya kalau politik kekuasaan dilakukan di kota suci Mekkah. Jadi, sudah sangat tepat Khalifah Ali memindahkan ibu kota ke Kufah.

Empat bulan kemudian perang saudara kedua pecah. Peperangan antara pasukan Gubernur Mu’awiyah dari Damaskus dan pasukan Khalifah Ali dari Kufah berlangsung di daerah Shiffin. Perang saudara terjadi, namun dua kota suci Mekkah dan Madinah aman. Sekali lagi, pemindahan ibu kota adalah upaya menjaga agar kesucian Ka’bah dan Masjid Nabawi agar tidak tercemar oleh pertarungan kekuasaan.

Tabik,
 
Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand

Lakpesdam NU Lamongan inisiasi Deklarasi Damai Lintas Agama

Agustus 27, 2019 Add Comment

nulamongan.or.id,-Indonesia merupakan negara besar yang terdiri dari berbagai etnis dan agama. Kekayaan kuktural bangsa Indonesia sudah tidak bisa disangkal lagi. Dalam rangka menjaga perdamaian dan kerukunan antar umat beragama inilah, maka Kantor Kementerian Agama Lamongan bekerjasama dengan Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Lamongan menyelenggarakan acara dialog lintas agama dan ikrar perdamaian.

Acara yang dilaksanakan pada hari Selasa (27/8) ini berlangsung di gedung Aula MAN Lamongan. Tak kurang dari 100 peserta dari berbagai agama dan perwakilan ormas turut hadir sebagai peserta aktif. Dalam kesempatan, dihadiri oleh Kartika (Wakil Bupati Lamongan), Drs. Sholeh., M. Si (Kepala Kantor Kemenag Lamongan), Winarto Eka Wahyudi (Ketua Lakpesdam NU Lamongan), para Kasi di lingkungan Kemenag Lamongan, NU, Muhammdiyah, umat kristiani, hindu, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dan Polres Lamongan.

Acara dialog lintas agama, diawali dengan pengucapan bersama ikrar damai umat beragama yang memuat poin-poin penting, antara lain: menjaga persatuan, kerukunan, berkonstribusi dalam pembangunan, menjaga keamaan dan penyataan kesetiaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selaku Ketua Lakpesdam Lamongan, Winarto Eka Wahyudi menayatakan bahwa pihaknya akan terus menyuarakan nilai-nilai toleransi dan perdamaian di Kabupaten Lamongan. "Ini adalah bagian dari ikhtiar kami dalam mengemban amanah kemerdekaan dari para pendiri bangsa" terangnya.

Dalam sambutannya, Drs. Sholeh menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara yang mengayomi smua agama. Ia menambahkan, karena begitu besarnya penduduk dengan agamanya yang berbeda, maka potensi konflik pasti ada.
"Maka, saling menghormati dan menghargai adalah kunci memutus tali konflik" imbuhnya dalam sambutan

Sementara itu, KH mas Nur arif, ketua FKUB mengatakan bahwa dalam sejarah, sejak zaman nabi sudah ada forum dialog. Bahkan ditindaklanjuti menjadi kerjasama yang lebih konkrit.

"Islam sudah lama bekerjasama dibidang ekonomi, budaya dan politik" terangnya.

Pada sesi akhir, Stefanus perwakilan Katolik, menyatakan bahwa sebagai umat beragama perlu mengedepankan saling melindungi dan merasakan satu sama lain. Pandangannya ini kemudian diperkuat oleh tokoh Hindu, Adi Wiyono bahwa sebagai tokoh agama kita perlu mengedepankan kerukukanan yang ditanamkan pada masing-masing umat.

"Jangan ada yang nggarai (memancing konflik, red), dan jangan terpancing jika ada yang menyulut konflik" pungkasnya. (Red)

Perkuat Ekonomi Keumatan, Masjid NU Sunan Giri Gandeng Maspion Group

Agustus 22, 2019 Add Comment

nulamongan.or.id, Lamongan- Selain sebagai pusat kegiatan ritual umat Islam, masjid juga diharapkan menjadi pusat kemandirian ekonomi umat. Harapan itulah yang direalisasikan oleh Masjid Nahdlatul Ulama Sunan Giri Lamongan. Masjid kebanggaan warga NU Lamongan ini, kemarin (Rabu, 21/8) menandatangani kesepakatan dengan perusahaan Maspion Group guna memperkuat ekonomi umat.

Acara yang digelar di kantor UD. Cahaya Indah itu dihadiri oleh jajaran Takmir Masjid NU Sunan Giri, kepengurusan NU mulai dari tingkat ranting hingga tingkat cabang. Tak hanya itu, Lembaga Takmir Masjid (LTM) NU, Fatayat, dan jajaran pemerintahan mulai Lurah hingga Camat juga turut hadir.

Di usianya yang lebih dari 19 tahun, masjid yang meraih juara I pada PWNU Jatim Award 2019 dua bulan yang lalu ini, selalu mencari berbagai terobosan dalam pengelolaan masjid. Termasuk kini, terobosan itu adalah upaya merintis kemandirian ekonomi jamaah, melalui kerjasama dengan Maspion Group.

Bentuk kerja sama tersebut tertuang dalam Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) dalam selembar halaman kertas, yang ditandatangani oleh Direktur UD. Cahaya Indah sebagai distributor resmi Maspion Group, HM. Nur Chasan, dan Ketua Takmir Masjid NU Sunan Giri, Drs. H. Nurul Anwar.

Sebagaimana poin kesepahaman kedua belah pihak, Maspion membuka pendaftaran sales atau tenaga marketing produk-produk Maspion Group kepada jamaah Masjid
NU Sunan Giri dan masyarakat umum. Pemasaran meliputi dua bidang, yaitu bidang pemasaran produk-produk Maspion, dan pemasangan pelapis kubah masjid atau mushalla berbahan enamel. Keuntungan yang didapat distributor Maspion Group, dibagi tiga antara sales, masjid dan karyawan masjid yang khusus menangani bidang usaha ini.

Maka selain mensejahterakan jamaah yang mendaftar sebagai sales, jalinan kerja sama ini juga untuk memberikan pemasukan infaq untuk masjid” terang H. Nurul Huda.

Dalam sambutannya, Ketua LTM NU Lamongan, Drs. Khoirul Huda, menjelaskan tiga fungsi masjid, yakni idarah, imarah dan ri’ayah. Jika Idarah digunakan untuk mengaktifkan fungsi utama masjid sebagai pusat peribadatan kaum muslimin, maka Imarah, difungsikan pusat pendidikan dan dakwah. Sedangkan ri’ayah adalah fungsi takmir dalam bidang pemeliharaan, yakni aktivitas pemeliharaan fisik masjid, dengan membangun atau merenovasi bangunan.

Dan termasuk dalam fungsi ini adalah pemeliharaan ketahanan ekonomi jamaah” imbuhnya
Drs. Fatkhur selaku Camat Lamongan mengapresiasi upaya Takmir Masjid NU Sunan Giri. Ia berharap, langkah ini bisa menjadi pioneer bagi masjid-masjid yang lain.

harapannya adalah makmur masjidnya, sejahtera juga jamaahnya” tukasnya. (Khalid)