Berita

FIKROH NAHDLIYAH

Bahtsul Masail

TERBARU

Mendamaikan Hisab dan Rukyat

Juni 03, 2019 Add Comment

oleh: 
KH. Afifuddin Muhajir
Guru Besar usul fikih di Ma'had Aly Situbondo. 

Dalam menentukan awal bulan Ramadan dan bulan Syawal untuk memulai dan mengakhiri puasa, sampai saat ini jumhur (mayoritas ulama) berpedoman pada rukyat. Yang dimaksud adalah melihat bulan baru (هلال) dengan mata kepala (رؤية بصرية), bukan penglihatan  ilmiah (رؤية علمية) dengan menggunakan perhitungan (حساب).

Bila penglihatan riil dengan mata kepala tidak terjadi meski karena terhalang awan, mereka menggenapkan bulan Syakban/Ramadhan menjadi 30 hari.

Dasar mereka adalah hadis riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين يوما.  

Berpuasalah kamu ketika telah melihat hilal Ramadan dan berhentilah kamu berpuasa ketika telah melihat hilal bulan Syawal, jika hilal tertutup bagimu maka genapkanlah bulan syakban menjadi 30 hari”. (HR. al-Bukhari dan  Muslim)

Dalam hadis riwayat Ibnu Umar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه، فإن غم عليكم فاقدروا له

Janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat hilal (ramadan) dan janganlah kamu berhenti berpuasa sehingga kamu melihat hilal syawal, jika jika hilal tertutup bagimu maka…”

Bagi jumhur, sabda Nabi (فاقدروا له) merupakan tafsir/penjelasan terhadap sabda Nabi pada hadits yang pertama, (فأكملواعدة) yang bermakna: sempurnakanlah bilangan menjadi 30 hari.

salah Seorang imam besar dari kalangan ulama Syafi’iyah, Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij mengkompromikan dua riwayat hadis di atas dengan menggunakan pendekatan yang dalam istilah sekarang disebut dengan teori multi-dimensi (نظرية تعدد الأبعاد), yaitu bahwa sabda Nabi (فاقدرواله) bermakna: “perkirakanlah hilal itu dengan menghitung posisi-posisi-nya”. 

Ini ditujukan kepada mereka yang oleh Allah Swt dianugerahi pengetahuan tentang hisab, sedang sabda Nabi (فاكملوا عدة) ditujukan kepada mereka yang awam di bidang ilmu itu. (Fatawa al-Qardhawi)

Yang menarik adalah pendapat Imam Taqyuddin al-Subki, yang diakui memiliki kapasitas sebagai mujtahid. Pendapat beliau dalam masalah ini antara lain dikemukakan oleh Sayyid Abu Bakar Syatha di dalam Hasyiyah I’anah al-Thalibin:

(فرع) لو شهد برؤية الهلال واحد او اثنان واقتضى الحساب عدم امكان رؤيته ، قال السبكي: لا تقبل هذه الشهادة، لان الحساب قطعي والشهادة ظنية، والظن لا يعارض القطع.

Jika satu orang atau dua orang bersaksi bahwa dia atau mereka telah melihat hilal sementara secara hisab hilal tak mungkin terlihat, maka menurut al-Subki kesaksian itu tidak diterima, karena hisab besifat pasti sedangkan rukyat bersifat dugaan, tentu yang bersifat dugaan tidak bisa mengalahkan yang pasti"

Substansi dari pendapat ini ialah bahwa hisab menjadi dasar dalam rangka menafikan, tidak dalam rangka menetapkan.

         الحساب حجة في النفي لا في الإثبات

Sayyid Abu Bakar Syatha mengomentari pendapat Imam al-Subki dengan mengatakan:

والمعتمد قبولها، إذ لا عبرة بقول الحسٌاب

Menurut yang muktamad, kesaksian tersebut diterima, karena pendapat ahli hisab tidak muktabar (tidak masuk hitungan).

Alasan Imam al-Subki : (لان الحساب قطعي والرؤية ظنية) untuk menolak rukyat ketika bertentangan dengan hisab perlu digarisbawahi kemudian ditarik ke kondisi saat ini di mana ilmu astronomi modern telah begitu maju dan akurasinya benar-benar meyakinkan (قطعي). 

Dengan ilmu ini, para ahli astronomi bisa memprediksi terjadinya gerhana beberapa ratus tahun sebelum terjadinya dengan sangat akurat menyangkut tahun, bulan, minggu, hari dan jam, bahkan menitnya.

Dengan  begitu akurat (قطعي)nya ilmu astronomi saat ini maka rukyat yang semula bersifat dugaan kuat (مظنونة)، ketika bertentangan dengan hisab turun menjadi sesuatu yang diragukan (مشكوك فيها), bahkan hanya bersifat asumsi saja (موهومة).

Pendapat imam al-Subki ini merupakan jalan tengah(المنهج الوسطي), sekaligus menjadi ajang perdamaian antara yang fanatik rukyat dan yang fanatik hisab.

Jika pemerintah berpegang pada pendapat ini maka tidak perlu menyiapkan tenaga dan biaya yang cukup besar yang dibutuhkan untuk melakukan pemantauan hilal (الترائي)، ketika seluruh ahli hisab/astronomi sepakat mengatakan bahwa hilal tidak mungkin dirukyat.

تصحيح :
١. فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين يوما
٢. فإن غمٌ عليكم فاقدروا له
وان كان أحدهما تفسيرا للآخر فالصواب أن المفسٌر هو الاول للثاني المجمل ، لا العكس

Merawat Tradisi, IPNU-IPPNU Kembangbahu Adakan Megengan

Mei 03, 2019 Add Comment
Megengan itu tradisi punyanya NU” tutur Ali Manan mengawali penjelasannya dalam acara yang diselenggarakan oleh IPNU-IPPNU Kembangbahu. Pengurus MWC NU ini, didapuk sebagai pengisi acara dalam kegiatan yang dilaksanakan pada hari jumat (03/05/). Acara Megengan yang dikemas dalam kegiatan rutinan tahlil dan shalawat (RTS) diselenggarakan secara sederhana di gedung MWC NU kecamatan Kembangbahu.

Acara yang dihadiri oleh anggota PAC IPNU IPPNU kecamatan Kembangbahu itu dibuka dengan pembacaan tahlil dan shalawat. Acara disambung dengan penyampaian sambutan dari ketua IPPNU, baru kemudian diisi oleh Ali Manan sebagai pembicara yang sengaja diundang untuk menambah pengetahuan anggota IPNU IPPNU tentang tradisi-tradisi yang dilestarikan oleh NU.

Megengan itu berasal dari bahasa Jawa. Pek dan geng. Dipegang jangan sampai kemana-mana”, ucap Ali Manan dengan intonasi yang mengundang tawa semua hadirin. “Apanya yang dipegang? yang dipegang itu nafsunya,” jelas beliau dalam acara yang diadakan H-3 bulan Ramadan.

Yang mengawali tradisi Megengan itu Sunan Kalijaga. Pada zaman Majapahit dulu disebut ruwahan. Dalam acara ruwahan disediakan sesajen dengan tujuan mengirim arwah para leluhur. Oleh Sunan Kalijaga acara ini tidak dihilangkan melainkan diubah. Makanan yang disiapkan untuk acara ruwahan yang semula tidak boleh dimakan, oleh Sunan Kalijaga dalam acara Megengan diperbolehkan untuk memakan sebagai bentuk sedekah,” urai Ali Manan menjelaskan sejarah awal munculnya tradisi Megengan sebagai bentuk syukur dan suka cita menyambut bulan Ramadan.

Acara malam itu diakhiri dengan kegiatan makan tumpeng Megengan bersama secara talaman sesaat setelah doa dibacakan. Para hadirin dengan lahap menghabiskan hidangan sederhana yang sudah disediakan oleh panitia acara. (sholikhah)

Lamongan, 23 Ramadan 1440 H

NU, Indonesia dan Korban Sabotase Istilah

April 20, 2019 Add Comment


Oleh: 
W Eka Wahyudi*

KHALIFAH Ali ibn Abi Thalib digeruduk oleh demonstran karena tak terima atas keputusan tahkim. Menantu Rasulullah Muhammad SAW itu, dihujani dengan umpatan oleh para pendemo dengan teriakan, “tidak ada hukum kecuali hukum Allah”. Pemilik pintu ilmu itu, menjawab dengan kalimat indah, “kalimat bagus, namun punya tendensi yang batil”.

Bagaimana mungkin, gerombolan umat unyu-unyu memaki seorang yang dijamin masuk surga oleh Rasul dengan menyabotase penggalan ayat suci al-Quran? Bagaimana bisa, sekelompok kecil yang ndak jelas itu menghujat seorang ashabus sunnah (maa ana alaihi wa ashabi).

Fenomema perampokan ayat suci oleh para demonstran di atas, percik-perciknya masih bisa dirasakan sampai hari ini. Tulisan ini akan mengintip bagaimana pola yang sama dialami oleh Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia. NU —sejak dulu— menjadi bulan-bulanan perampasan istilah yang nada-nadanya hari ini merembet percikan apinya untuk mendelegitimasi eksistensi NU (dan negara?).

Ada beberapa kasus sekadar menyebut contoh. Pertama, saat memutuskan untuk berislam dengan cara bermadzhab, ada kelompok yang mengatakan “Orang NU lebih memilih mengikuti imam madzhab dari pada ajaran murni Nabi Muhammad”. Dikatakan seperti itu, bagaimana tidak sakit, coba!.

Kedua, ketika orang-orang NU berdoa kepada Allah SWT melalui wasilah para auliya’ dan orang-orang shalih, melalui tawasul, ziarah kubur para wali dan istigatsah mereka dengan enteng menuduh, “jama’ah NU banyak yang kafir, musyrik, karena tidak langsung memohon kepada Allah. Dasar penyembah kubur”. Diumpat semacam itu, bagaimana perasaanmu, Vijay?.

Ketiga, jika jamaah NU melaksanakan ratibul hadad, menyenandungkan shalawat diba’ dan barzanji, mereka mengumpat dengan nada hinaan, “Jangan menambah-tambah ajaran, Islam sudah sempurna”.

Keempat, bilamana menyelanggarakan tahlilan dan istigatsah, mereka hadiahi kalimat “Pelaku bid’ah sesat. Jangan mencampur ayat al-Quran dengan yang lain”.

Kelima, saat mengistiqomahkan membaca surah Yasin dan Waqiah, mereka bilang “Jangan diskriminatif terhadap surah al-Quran”.

Demikian sekadar beberapa contoh kasus. Teralu banyak kejahatan verbal yang selama ini dialamatkan pada NU. Jika hujatan ini saya bukukan, akan terkumpul 24 jilid dengan judul, “Ensiklopedi Lengkap Kesesatan NU: dari Pemikiran sampai Kepemimpinan”.

Logika generalis inilah yang berhasil mengombang-ambingkan umat yang awam. Akibat tidak jeli dan teliti banyak yang menjadi korban dan akhirnya bergeser membenci ritus-ritus amaliyah NU. Kita semua paham, siapa kelompok yang selama ini menyerang amalan NU seperti itu.

Saat NU berupaya mengkontekstualisasikan ajaran Islam dengan adat budaya lokal dengan istilah Islam Nusantara, logika di atas dipakai lagi: NU liberal, ingin merusak Islam dari dalam, ANUS (Aliran Nusantara) dan celaan manis lainnya.

Nah, kali ini lihatlah. Saat NU berusaha menjaga gawang kebangsaan, mengawal pemerintah untuk membubarkan organisasi yang dilarang di berbagai penjuru dunia Islam, dan turut merawat kohesi sosial dengan “mengamankan ustadz” yang gandrung melakukan ujaran kebencian di tengah “pengajian”-nya, apa yang mereka umpatkan?: NU (dan pemerintah) menistakan agama, pengkriminalisasi ulama, penista tauhid dan rezim anti Islam.

Tidak berniat menyamakan antara Imam Ali dan NU, namun pola penggiringan opini kelompok ini sangat serupa. Memproduksi diksi, mempropagandakan narasi untuk memobilisasi kebencian.

Kelompok ini, pada dasarnya mengidap penyakit mental sosio-religius climber. Yaitu sebuah perasaan yang ingin diakui dan dilegitimasi secara sosial keagamaan oleh orang lain. Apa sebab? karena nalarnya bereaksi dengan disonansi kognitif, yakni sebentuk asumsi untuk mengurangi ketidaknyamanan terhadap situasi (dan kelompok) yang dianggap merugikan dirinya.

Tak lain, situasi tersebut ketika fakta sosial dengan fasih mengabarkan bahwa kelompoknya telah bubar, tokohnya diburu oleh pemerintah karena menyebarkan kebencian, dan NU adalah sekelompok organisasi yang selama ini lantang mengcounter pemikiran mereka.

Sehingga wajar, mereka sangat lantang membuat propaganda dengan logika kategorisasi ingroup dan outgroup, logika kawan-lawan, dengan memproduksi narasi-narasi kalau tidak bersamaku, berarti kalian lawanku (with us or against us).

Maka dari itu, ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Berhati-hatilah, jangan sampai kita termakan oleh narasi generalis yang sebenarnya rapuh secara akal sehat. Jangan sampai kita menjadi korban penggiringan opini yang dampaknya kita mempercayai bahwa Lucinta Luna ternyata sudah datang bulan…! (*)

W Eka Wahyudi, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM NU) Lamongan dan Sekretaris ASPIRASI (Asosiasi Penulis dan Peneliti Islam Nusantara)

Kebingungan Imam Ibnu Wahb karena Hafal Banyak Hadits

Maret 31, 2019 Add Comment
Source Image: muslim.or.id
Dalam kitab Tartîb al-Madârik wa Taqrîb al-Masâlik karya Qâdi ‘Iyâd (w. 544 H) tercatat pernyataan kebingungan Imam Abdullah bin Wahb (w. 197 H):

وكنت أنا آتي مالك وهو شاب قوي، يأخذ كتابي فيقرأ منه، وربما وجد فيه الخطأ فيأخذ خرقة بين يديه فيبلها في الماء فيمحوه، ويكتب لي الصواب. قال ابن وهب: لولا أن الله أنقذني بمالك والليث لضللت. فقيل له: كيف ذلك؟ قال: أكثرت من الحديث فحيرني. فكنت أعرض ذلك على مالك والليث، فيقولان لي: خذ هذا ودع هذا

Aku mendatangi Malik, seorang pemuda luar biasa. Dia mengambil bukuku dan membacanya. Ketika dia menemukan kesalahan di dalamnya, dia mengambil kain di antara tangannya lalu menyelubkannya ke dalam air dan menghapusnya. Dia pun mencatatkan untukku apa yang benar.

Ibnu Wahb berkata: “Jika saja Allah tidak menyelamatkanku melalui perantara Malik dan al-Laitsi, aku pasti telah sesat.”

Kemudian dikatakan kepadanya: “Kenapa bisa begitu?”

Ibnu Wahb menjawab: “Aku hafal banyak hadits hingga membuatku bingung. Lalu kusampaikan kebingunganku kepada Malik dan al-Laitsi. Keduanya berkata kepadaku: “Ambil ini dan tinggalkan yang ini.” (Abû al-Fadl al-Qâdi ‘Iyâd bin Mûsâ, Tartîb al-Madârik wa Taqrîb al-Masâlik, Mohammedia (Marokko): Mathba’ah Fadlalah, tt, juz 3, hlm 236)

****

Abdullah bin Wahb adalah ulama terkemuka. Murid dari ulama-ulama besar seperti Sufyan al-Tsauri (97-161 H), Sufyan bin ‘Uyainah (107-198 H), al-Laits bin Sa’d (94-175 H), Malik bin Anas (93-179 H) dan lain sebagainya. Ia juga menghasilkan banyak murid luar biasa seperti Sa’id bin Manshur (w. 227 H), Ali bin al-Madini (161-234 H), Qutaibah bin Sa’id (150-240 H), dan masih banyak murid lainnya.

Para ulama sangat menghormatinya. Ia dikenal sebagai ahli fiqih dan hadits yang mumpuni. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits darinya. Kejujuran dan keilmuannya tidak diragukan sehingga membuat hadits-hadits yang disampaikannya berkedudukan tinggi. Imam Yahya bin Ma’in (w. 233 H) dan Imam al-Nasa’i (w. 303 H) mengatakan, “Ibn Wahb tsiqqah—Ibnu Wahb terpercaya.” Imam Abu Hatim al-Razi (w. 277 H) memberinya predikat sangat terpercaya. Menurut Imam Ahmad bin Shalih, Ibnu Wahb hafal ratusan ribu hadits. ((Abû al-Fadl al-Qâdi ‘Iyâd bin Mûsâ, Tartîb al-Madârik wa Taqrîb al-Masâlik, juz 3, hlm 232)

Jika seorang Ibnu Wahb yang hafal ratusan ribu hadits dan belajar agama secara tradisional (berjenjang) masih terserang kebingungan dalam memahami agama, bagaimana dengan kita yang mempelajari agama sepotong-potong. Hanya bermodalkan satu hadits sudah berani menyalahkan dan menghakimi lainnya. Padahal, bangunan hukum tidak cukup hanya mengandalkan satu hadits saja.

Contohnya hadits, “lahm al-baqar dâ’un—daging sapi adalah penyakit.” Hadits ini dipandang bermasalah oleh banyak ulama meskipun dipandang shahih oleh Syekh al-Albani (w. 1999 M). Salah satu kritik datang dari Syekh Muhammad al-Ghazali (w. 1996 M) yang mengatakan:

وفي هذه الأيام صدر تصحيح من الشيخ الألباني لحديث "لحم البقر داء", وكل متدبر للقرآن الكريم يدرك أن الحديث لا قيمة له, مهما 
كان سنده. إن الله تعالي في موضعين من كتابه أباح لحم البقر, وامتنّ به علي الناس, فكيف يكون داءً؟

“Akhir-akhir ini telah muncul penshahihan dari Syekh al-Albani terhadap hadits “daging sapi adalah penyakit.’ Padahal, setiap orang yang mencermati Al-Qur’an akan tahu bahwa hadits tersebut tidak ada nilainya, bagaimanapun keadaan sanadnya. Sesungguhnya Allah, dalam dua tempat di kitabNya menghalalkan daging sapi dan mengaruniakannya kepada manusia, maka bagaimana mungkin daging sapi adalah penyakit?” (Syekh Muhammad al-Ghazali, al-Sunnah al-Nabawiyyah bain Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadits, Kairo: Darul Kitab al-Mishr, 2011, hlm 22)

Dua tempat dalam kitabNya yang dimaksud Syekh Muhammad al-Ghazali adalah Surah Al-An’am ayat 142-144 dan Al-Hajj ayat 36. Surah Al-An’am 142-144 berisi keterangan bahwa binatang ternak itu ada dua macam; untuk pengangkutan dan disembelih. Kemudian Allah memerintahkan manusia agar memakan rizki halal yang dikaruniakan Allah kepada mereka termasuk di dalamnya domba, kambing, unta, sapi dan seterusnya. Surah berikutnya, Al-Hajj ayat 36 berisi tentang penjelasan bahwa Allah telah menjadikan hewan-hewan al-budn sebagai bagian dari syiarnya dan manusia memperoleh kebaikan darinya, serta perintah menyebut nama Allah ketika menyembelihnya. Maksud dari hewan-hewan al-budn adalah unta, sapi, dan kerbau.

Ini baru contoh kecil saja, belum memasuki aspek metodelogi yang lebih kompleks. Kita perlu hati-hati membaca terjemahan ayat atau hadits, karena teks asli dengan terjemahan itu tidak setara. Terjemahan Al-Qur’an tidak bisa lepas dari pemaknaan mufassir. Sedangkan satu mufassir dengan mufassir lainnya bisa berbeda dalam memaknainya, bahkan di kalangan sahabat nabi pun terjadi perbedaan itu.

Maka, seperti yang dilakukan Imam Abdullah bin Wahb, kita harus mendengar dan membaca pandangan para pakar yang benar-benar ahli di bidangnya. Seorang Ibnu Wahb saja kebingungan untuk memilih mana hadits yang harus diamalkan karena bermacam-macamnya tipe hadits. Terkadang, di hadits yang bertema sama, satunya bersifat ‘amm (umum), satunya bersifat khas (khusus). Belum lagi jika terjadi ta’ârudl bainal adillah (kontradiksi antar dalil), yang menurunkan sekian banyak konsep penyelesaiannya, dari mulai al-jam’u bainahumâ (dikompromikan antara keduanya) sampai nashul mutaqaddim bil muta’ahhir (menghapus yang lebih dulu dengan yang belakangan). Lalu ada al-nash wal mansûh dan seterusnya.

Karena itu, ia bertanya kepada Imam Malik dan Imam al-Laitsi, dua orang mujtahid besar tentang hadits-hadits yang dihafalnya. Dalam gambaran ringkas, Imam Malik dan Imam al-Laistsi menjawab: “ambil ini, dan tinggalkan yang ini.” Artinya, terjadi proses belajar-mengajarnya yang panjang. Apa yang dikemukakan di atas adalah gambaran sederhana dari proses panjang itu. Sebab, untuk bisa mengatakan, “ambil ini dan tinggalkan yang ini,” Imam Malik dan Imam al-Laitsi harus terlebih dahulu mendengarkan puluhan ribu hadits yang dihafal Ibnu Wahb, agar hadits-hadits itu dapat diukur dengan standar metodelogi yang dipakai keduanya. Sejak saat itu, ia menjadi murid Imam Malik yang sangat berpengaruh dalam penyebaran Mazhab Maliki. Ia tidak lagi sekedar ahli hadits, tapi juga ahli fiqih seperti gurunya.

Riwayat di atas menunjukkan pentingnya belajar agama secara berkala pada guru yang jelas sanad keilmuannya. Karena itu, kita harus tetap berpegang teguh pada tradisi beragama yang ditinggalkan para salafus shalih, yaitu beragama dengan ilmu, belajar secara berjenjang, serta selalu memohon petunjuk Allah agar dimudahkan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Semoga kita bisa terus melestarikannya. Amin.

Semoga bermanfaat....


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.
Source : NU Online

Mengonsumsi Keong, Halal atau Haram?

Maret 31, 2019 Add Comment
Ilustrasi: Detik.com
Keong merupakan salah satu hewan yang dapat hidup dalam dua alam, yakni di perairan dan daratan. Salah satu ciri khas hewan ini adalah memiliki tempurung atau cangkang yang berfungsi sebagai pelindung dirinya dari ancaman luar. Tempurung keong ini selalu menyertainya di mana pun hewan ini berjalan, seperti halnya tempurung yang dimiliki oleh siput dan kura-kura.

Bagi masyarakat yang berada di sekitar pesisir pantai, hewan keong ini sering mereka temukan. Kadang kita melihat beberapa orang berburu keong, sebagian untuk tujuan dikonsumsi secara pribadi dan ada pula yang menggunakan keong untuk diperjualbelikan.

Sedangkan bagi masyarakat pedesaan, terutama mereka yang bermata pencaharian sebagai petani, banyak juga keong yang berlalu-lalang di sekitar perairan sawah, hewan ini biasa dikenal dengan nama tutut atau keong sawah. Sebagian masyarakat berburu hewan keong sawah ini untuk dijadikan sebagai lauk-pauk, terkadang ada juga yang diperjualbelikan. 

Melihat berbagai realitas di atas, sebenarnya apakah memang hewan keong termasuk hewan yang halal untuk dikonsumsi, sehingga tindakan sebagian masyarakat dapat dibenarkan?

Para ulama berbeda pendapat tentang status hokum keong, apakah termasuk hewan yang halal atau haram dikonsumsi. Sebagian ulama seperti Imam Ar-Ramli, Ad-Damiri dan Khatib Asy-Syirbini berpandangan bahwa keong adalah hewan yang halal untuk dikonsumsi. Sedangkan ulama lain seperti Imam Ibnu Hajar, Ibnu Abdissalam, dan Az-Zarkasyi berpandangan bahwa keong adalah hewan yang haram untuk dikonsumsi. Perbedaan pendapat ini secara tegas dijelaskan dalam salah satu kitab karya ulama Nusantara, Syekh Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Jawi al-Bughuri yang berjudul Shawaiq al-Muhriqah li al-Awham al-Kadzibah:

فعلى كلام المجموع وابن عدلان وأئمّة عصره والدميري والشهاب الرملي ومحمد الرملي والخطيب فى المغني فالرميسى والتوتوت والكييوع حلال لأنّها مثل الدنيلس الذي اتّفقوا على حله وداخل في أنواع الصدف الذي ظاهر كلام المجموع على حلّه . وعلى كلام ابن عبد السلام والزركشى  وابن حجر فى الفتاوى الكبرى والتحفة فالمذكورات حرام فيجوز للناس أكلها تقليدا للذين قالوا بحلّه والأولى تركه إحتياطا.

“Berdasarkan penjelasan dalam kitab Al-Majmu’, pendapat Ibnu ‘Adlan dan ulama semasanya, Imam Ad-Damiri, Syihab Ar-Ramli, Muhammad Ar-Ramli, dan Khatib Asy-Syirbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj bahwa ramis, tutut (keong sawah) dan keong (laut) adalah hewan yang halal, karena masih sama dengan danilas (sejenis hewan laut) yang disepakati kehalalannya dan tergolong dalam jenis kerang yang secara eksplisit dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ kehalalannya. Namun jika berdasarkan pendapat Imam Ibnu Abdissalam, Az-Zarkasyi, Ibnu Hajar dalam kitab al-Fatawa al-Kubra dan Tuhfah al-Muhtaj bahwa semua hewan yang disebutkan di atas adalah haram, maka boleh bagi seseorang untuk mengonsumsinya dengan bertaqlid pada ulama yang berpendapat tentang kehalalannya, namun yang lebih utama adalah tidak mengonsumsi hewan ini dalam rangka mengambil jalan hati-hati dalam mengamalkan syariat.” (Syekh Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Jawi, Shawaiq al-Muhriqah li al-Awham al-Kadzibah, hal. 14-15)

Perbedaan pendapat tentang hukum mengonsumsi keong di atas sebenarya bermula dari perbedaan pendapat di antara ulama tentang status hukum hewan kerang, apakah termasuk hewan yang haram atau halal dikonsumsi. Sebab keong adalah hewan yang mirip dengan kerang dari segi kehalalan dan keharamannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi keong, baik itu keong laut ataupun keong sawah adalah persoalan yang diperdebatkan, sebagian ulama memperbolehkan, sebagian yang lain mengharamkan. Bagi sebagian orang yang terbiasa mengonsumsi keong atau menjadikan keong sebagai mata pencaharian diperbolehkan baginya mengikuti (taqlid) pada ulama yang menghalalkan keong. Sehingga perbuatan yang dilakukannya, baik itu mengonsumsi ataupun memperjual-belikan keong tidak tergolong sebagai hal yang dilarang oleh syara’. Meski begitu, hal yang lebih utama tetap menjauhi mengonsumsi keong ini dalam rangka mengambil jalan kehati-hatian dalam mengamalkan syariat (ihtiyath) seperti yang dijelaskan dalam kitab Shawaiq al-Muhriqah li al-Awham al-Kadzibah di atas. Wallahu a’lam.


Ustadz Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Kaliwining Jember Jawa Timur 
Source : NU Online

Istilah Khilafah Tidak Ada Dalam Al-Qur’an

Maret 31, 2019 Add Comment

Nadirsyah Hosen
(Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand)

Banyak terjadi kerancuan di kalangan umat mengenai penggunaan istilah Khalifah, Khilafah, dan juga Khalifatullah fil Ardh. Perlu saya tegaskan bahwa
1. Tidak ada istilah Khilafah dalam al-Qur’an
2. Tidak ada istilah Khalifatullah fil Ardh dalam al-Qur’an
3. Hanya dua kali al-Qur’an menggunakan istilah khalifah, yang ditujukan untuk Nabi Adam dan Nabi Dawud.

Mari kita simak bahasan berikut ini:
Penggunaan terminologi atau istilah Khalifah itu hanya digunakan dua kali dalam al-Qur’an. Pertama, dalam QS 2:30
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Konteks ayat ini berkenaan dengan penciptaan Nabi Adam as. Ini artinya Nabi Adam dan keturunannya telah Allah pilih sebagai pengelola bumi. Penggunaan istilah Khalifah di sini berlaku untuk setiap anak cucu Adam.
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia....” (QS 33:72)
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS 17:70)
“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS 21: 105)
Potensi semua manusia menjadi khalifah ini juga disinggung oleh Hadis Nabi Saw:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawabannya. Maka seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggung jawabannya. Dan seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggung jawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya” (Sahih al-Bukhori, Hadis No 4789)
Kedua, ayat terakhir yang menyebut istilah khalifah itu adalah yang berkenaan dengan Nabi Dawud:
“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah...” (QS 38:26)
Harap diingat bahwa Nabi Dawud adalah Raja Bani Israil. Dalam ayat di atas, Nabi Dawud diperintah untuk memberi keputusan dengan adil. Inilah spirit ajaran Qur’an: keadilan. Sehingga amanah sebagai khalifah (pemimpin) harus diwujudkan dengan prinsip keadilan. Kata adil dalam al-Qur’an disebut sebanyak 28 kali.
Pada titik ini, tidak satupun ayat mengenai Khalifah bicara mengenai sistem pemerintahan. Tentu ini dapat dipahami karena ada jarak yang jauh antara Nabi Adam dan Nabi Dawud dengan kehadiran Nabi Muhammad Saw. Istilah Khalifah dalam konteks kepemimpinan umat pasca wafatnya Rasulullah Saw muncul setelah beliau Saw wafat.
Titel kepemimpinan Abu Bakar itu Khalifatur Rasul (Pengganti Rasul). Karena tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad Saw, maka Abu Bakar menggantikan beliau Saw dalam kapasitas sebagai pemimpn umat, bukan pengemban kenabian.
Menurut sejarawan Ibn Khaldun dalam kitabnya Muqaddimah, titel untuk Umar Bin Khattab itu Khalifatu Khalifatir Rasul (Pengganti dari penggantinya Rasul). Ini mungkin seperti ungkapan joke dari orang Madura, “Gubernur Jawa Timur itu Pak Mohammad Noer, selain itu ya cuma penggantinya”. Jadi, Sayidina Umar hanya dianggap sebagai Khalifah Pengganti Khalifah Rasul. Tapi penyebutannya kan jadi ribet. Nanti khalifah ketiga dan keempat gimana penyebutannya?
Abdullah bin Jahsy kemudian menyebut Sayidina Umar sebagai Amirul Mu’minin. Maka gelar Khalifah tetap dipakai, namun dalam pelaksanaannya di masyarakat Khalifah kedua, ketiga dan keempat dipanggil dengan sebutan Amirul Mu’minin (pemimpin orang-orang beriman).
Tradisi ini diteruskan oleh Bani Umayyah. Sepeninggal Bani Umayyah, muncul istilah baru di masa Khalifah ketiga Abbasiyah, yaitu Al-Mahdi. Di masa Al-Mahdi ini perlahan titel khalifah bergeser, dari semula sebagai khalifah penerus Rasul, kini menjadi Khalifatullah fil Ardh. Khalifah Allah di muka bumi, seolah menjadi bayang-bayang kekuasaan Allah di bumi. Maka, perlahan Khalifah Al-Mahdi duduk di balik tirai dan sejumlah urusan penting emerintahan sehari-hari diserahkan kepada wazir (semacam perdana menteri).
Istilah khalifatullah fil Ardh ini tidak ada dalam al-Qur’an. Yang ada dalam al-Qur’an itu istilah “khalaif al-ardh” atau “khalaif fil ardh”. Misalnya:
“Dan Dia lah yang menjadikan kamu khalaif al-ardh (penguasa-penguasa di bumi) dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS 6:165)
“Kemudian Kami jadikan kamu khalaif fil ardh (pengganti-pengganti di muka bumi) sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat”. (QS 10:14)
Jadi, sekali lagi menjadi jelas bahwa penggunaan kata khalifah dalam al-Qur’an digunakan merujuk ke Nabi Adam dan Nabi Dawud, bukan merujuk kepada khalifah sepeninggal Nabi Muhammad. Tidak ditemukan istilah Khilafah dalam al-Qur’an. Maka kita sebaiknya jangan mengklaim sebuah istilah seolah ada dalam al-Qur’an padahal tidak ada sama sekali. Begitu pula istilah Khalifatullah fil ardh, yang penggunaannya sangat politis dilakukan oleh Abbasiyah untuk memperkuat legitimasi kekuasaan mereka.
Lantas apa bedanya khalifah dengan khilafah? Khilafah belakangan ini telah menjadi sebuah istilah yang bermakna sistem pemerintahan. Pemerintahan Khilafah ini sudah bubar sejak tahun 1924. Maka tepat kita katakan “Islam Yes, Khilafah No”. Bukan saja kita bilang No karena sudah bubar, dan digantikan oleh negara-bangsa, tapi juga istilah Khilafah tidak ada dalam al-Qur’an. Istilahnya saja tidak ada, apalagi bentuk dan sistem pemerintahan yang baku juga tidak terdapat penjelasannya di dalam al-Qur’an.
Bisakah seorang menjadi Khalifah tanpa ada Khilafah? Bisa. Kenapa tidak? Bukankah kita semua sebagai anak cucu Nabi Adam adalah pewaris dan pengelola bumi? Ini khalifah dalam pengertian Qur’an, bukan dalam konteks sistem Khilafah ala HTI.
Bisakah pemimpin sekarang kita sebut sebagai Khalifah meskipun tidak ada khilafah? Bisa, mengapa tidak? Bukankah Nabi Dawud menjadi Khalifah padahal beliau Raja Bani Israil? Kata kuncinya, seperti dijelaskan di atas, adalah keadilan. Sesiapa pemimpin yang adil, bisa kita anggap sebagai Khalifah seperti Nabi Dawud
Bisakah ada khalifah tanpa khilafah? Bisa, mengapa tidak? Bani Umayyah, Abbasiyah dan Utsmani itu berdasarkan kerajaan, diwariskan turun temurun. Ini bertentangan dengan konsep yang dijalankan Khulafa ar-Rasyidin. Tapi toh namanya juga disebut sebagai Khalifah. Artinya pada titik ini cuma sebutan gelar belaka untuk kepala negara, sementara esensinya sudah hilang.
Jadi jangan dikacaukan antara istilah khalifah dalam al-Qur’an dengan istilah khilafah (sistem pemerintahan) yang tidak ada dalam al-Qur’an.
Bagaimana dengan di kitab fiqh? Pembahasan di kitab fiqh itu dalam konteks kewajiban mengangkat pemimpin (Imam atau khalifah), bukan kewajiban menegakkan sistem khilafah. Sampai di titik ini kerancuan semakin parah: seolah wajib mendirikan sistem khilafah. Padahal yang wajib itu memilih pemimpin.
Dan saat ini kita di Indonesia sudah punya pemimpin yang bernama Joko Widodo. Sebentar lagi kita akan menggelar Pilpres lima-tahunan, sesuatu yang tidak pernah ada dalam sistem pemerintahan khilafah. Bersyukurlah kita di bawah naungan NKRI!